Yesus:
Batu Penjuru Hidup Beriman

Dalam Injil, pemilik tanah itu melambangkan Allah, penggarap melambangkan kita, dan tanah atau kebun anggur itu melambangkan Kerajaan Allah. Sama seperti pemilik tanah menyediakan segala sesuatu agar kebun anggur itu tumbuh subur, Allah telah memberi kita semua yang dibutuhkan, yakni ajaran-Nya, Roh-Nya, dan kasih karunia-Nya berupa talenta-talenta dan kelimpahan materi (uang, barang, orang).
Paulus menegaskan, bahwa segala hal baik itu memang telah diberikan oleh Allah kepada manusia. Dengan segala karunia itu Allah berharap agar kita menjadi pengurus yang setia atas tanah pinjaman-Nya.
Jika para penggarap dalam perumpamaan Yesus menolak untuk mengakui otoritas pemilik. Sebaiknya kita tidak demikian; kita seharusnya mengakui, bahwa semua yang kita miliki adalah milik Allah, yakni berasal dari-Nya. Oleh karena itu harus dipersembahkan kembali kepada-Nya. Kita semua dipercaya oleh Tuhan untuk memiliki dan mengembangkan ‘tanah’ atau ‘kebun anggur’ kita yang berupa bakat menyanyi, bermusik, bersosialisasi, dan berbagai bidang keahlian spesifik lainnya. Jika suatu saat nanti kita diminta oleh Tuhan untuk berbagi (mengembalikan) hasil ‘garapan tanah’ itu, maukah kita mengembalikannya kepada Tuhan?
Melalui kesediaan kita terlibat aktif dalam pelayanan di tengah masyarakat atau di dalam berbagai aktivitas sosial-pastoral di Gereja, sesungguhnya kita telah berusaha menjadi penggarap kebun anggur yang baik. Kita tidak mengabaikan atau menyimpan bakat-bakat dari Tuhan itu untuk diri sendiri.
Marilah kita berusaha menyuburkan tanah atau mengembangkan berbagai potensi yang ada dalam diri ini demi kebaikan sesama. Janganlah kita hanya terus menghasilkan ‘anggur yang asam’. Kita dapat belajar, bahwa Allah itu Maha Sabar, tapi ada konsekuensi atas penolakan manusia terhadap-Nya. Meskipun para penggarap memberontak untuk mengakui siapa yang mempunyai tanah itu, pemilik tanah masih sabar. Ia mau bernegosiasi baik-baik dengan mengirim banyak hamba, yang melambangkan para Nabi Allah sepanjang sejarah. Berkali-kali, Allah mengulurkan tangan kepada umat-Nya, tapi mereka mengabaikan para utusan-Nya. Akhirnya, Ia mengirim Anak-Nya, Yesus, yang juga mereka tolak. Kesabaran Allah itu tidak terbatas. Namun, ketika orang terus-menerus berpaling dari-Nya bahkan secara keji membunuh para utusan Allah, mereka menghadapi konsekuensi dari pilihan mereka sendiri.
Yesus memperingatkan, bahwa Kerajaan itu akan diambil dari mereka yang menolak-Nya dan dialihkan kepada orang lain yang dapat menghasilkan buahnya. Jadi, mereka yang menolak Allah dan para utusan-Nya tidak akan memperoleh buah-buah keselamatan, tidak memiliki tanah terjanji, tidak berhak tinggal di Kerajaan-Nya.
Marilah kita memahami yang di katakan Yesus agar memperoleh keselamatan, “Batu yang dibuang oleh tukang-tukang bangunan telah menjadi batu penjuru.” Meskipun ditolak atau dibuang oleh manusia, Yesus tetap merupakan dasar yang kukuh bagi iman kita. Kita yang percaya kepada-Nya akan berdiri teguh dan memiliki petunjuk arah yang pasti menuju Surga. Tapi mereka yang menolak-Nya akan tersandung dan tersesat.
Apakah kita sudah membangun keputusan, tindakan, dan tujuan kita di atas Dia, yang merupakan batu penjuru kehidupan kita?
“Tuhan, sadarkanlah kami, bahwa hanya Engkau yang menjadi dasar hidup kami agar dapat berbuah subur. Semoga kami senantiasa menjadikan Engkau sebagai batu penjuru hidup kami dan dapat terus berkarya membuahkan kebaikan meskipun mengalami penolakan. Amin.
Ziarah Batin
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.