Manusia, Mahkota Segala Ciptaan

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Manusia, siapakah engkau. Dari manakah dan hendak ke manakah engkau?”
(Pertanyaan Abadi)

Kita sudah memahami, bahwa makhluk manusia adalah ciptaan Tuhan yang paling agung dan sempurna. Dia dilengkapi dengan akal budi, dan bahasa yang sempurna yang melebihi semua makhluk ciptaan lainnya.

Untuk diingat, dalam konteks ini tidak dimaksudkan, bahwa manusia adalah makhluk yang paling kuat.

Bukankah:

  • (1) Seekor singa justru jauh lebih kuat daripada manusia?
  • (2) Seekor elang rajawali, jauh lebih cekatan daripada manusia?
  • (3) Seekor ikan paus justru jauh lebih besar daripada manusia?

Dalam konteks ini, yang dimaksudkan ialah tugas perutusan yang diembankan Tuhan kepada manusia. “Berkembang biaklah kamu dan kuasailah seisi alam semesta ini.”

Dalam bahasa Yunani digunakan istilah ‘radah dan kabash’ yang bermakna ‘menguasai dan memelihara,’ dan sebaliknya, bukan ‘mengeksploitasi.’

Mahkota itu justru tampak sangat jelas pada anak-anak kita. Ketika mereka kehilangan kasih sayang; mereka minder, karena kurang secara ekonomis, dan diremehkan karena, miskin. Tapi mereka justru tetap rela untuk menolong teman-teman yang berkekurangan. Nah, di situlah letaknya mahkota mereka.

Mahkota itu justru akan kian terang, bukan di atas kepala Raja atau Ratu, melainkan justru di atas kepala seorang anak miskin, tapi yang tetap bersemangat.

Ada pun cara terbaik untuk merawat mahkota itu ialah dengan melewati proses pendidikan. Proses “homo humanus:”

    1. Homo Sapiens: Manusia yang meluber isi kepalanya (otaknya).
    1. Homo Faber: Manusia yang terampil bisa bekerja, berfokus pada tangannya.
    1. Homo Humanis: Menjadi manusia yang berhati nurani: Ia tahu, bilamana perlu pintar, kapan perlu terampil, namun selalu mengutamakan kasih dan martabat manusia yang berfokus pada hati.

Sasaran yang justru:

  • Dari homo egois: yang suka menang sendiri, menjadi homo humanis, yang bisa berbagi.
  • Dari homo yang dilukai, menjadi homo yang mampu mengampuni.
  • Dari homo yang bisa ber-HP ria, menjadi homo yang mampu menatap bola mata sahabatnya dengan empati.

Paulo Freire menyebutnya sebagai proses ‘humanisasi’, bukan ‘dehumanisasi’.

Jika proses pembentukkan kepribadian manusia lewat cara yang sangat manusiawi ini, maka manusia sebagai mahkota segala ciptaan itu akan tetap disandangnya.

Kediri, 4 Oktober 2026