Iman

“Saat iman lantang disuarakan tanpa kasih, yang tumbuh bukan iman, melainkan ego.” -Rio, Scj.

Sambil menikmati kopi pagi ini, terlihat seekor anjing terluka di kepala yang tidak mungkin ia bisa merawat sendiri lukanya. Tiba-tiba datang anjing lain yang langsung membantu menjilati luka itu. Pemandangan sederhana, tapi teguran keras untuk kita.

Marak di negeri kita tercinta ini sebuah realita; yang paling keras membela Tuhan paling jarang melakukan kehendak-Nya. Tuhan tidak pernah meminta dibela, tapi manusia sibuk membela-Nya. Kita marah, ketika keyakinan kita dihina, tapi diam ketika kemanusiaan diinjak. Kita rela berdebat sampai larut malam demi menang atas orang yang berbeda iman, tapi tidak sanggup meluangkan lima menit untuk menolong tetangga yang kelaparan. Sebenarnya yang sedang kita bela itu Tuhan atau harga diri sendiri?

Iman lahir dari pengalaman kasih, berkat, anugerah dan sentuhan personal Tuhan yang Agung. Seorang yang mempunyai iman pasti hidup dalam kasih, empati, peduli, berpengharapan, syukur, dan sukacita. Sebaliknya yang mempunyai agama, tapi tak punya iman justru paling sibuk dan hafal daftar siapa yang salah dan siapa yang pantas masuk Neraka.

Ada orang yang beribadah sampai lututnya menghitam, tapi pelit terhadap sesamanya. Sebaliknya ada orang yang tidak pernah menyebut nama Tuhan, tapi menolong tanpa pamrih. Lalu siapa yang lebih dekat dengan Tuhan? Bukan aku yang berhak menjawab, bukan kamu juga. Kalau imanmu membuatmu lebih keras, lebih merasa suci, dan lebih cepat menghakimi. Mungkin yang tumbuh bukan iman, tapi ego kita. Karena iman yang sehat itu tidak diukur dari seberapa lantang kita bicara tentang Tuhan, tapi dari seberapa lembut kita memperlakukan manusia.

Deo gratias.

Rm RP Rio, Scj