Refleksi Filosofis:Detak Sang Waktu

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Janganlah engkau takut pada detak sang waktu. Dengarkan saja, karena di setiap detak pun berkata, “Kau masih di sini, kau masih dicintai. Pulangmu masih ditunggu.” (Kerisauan manusia)

‘Waktu’, ya, tentang waktu. Sejatinya, waktu itu tidak berjalan, tapi kitalah yang berjalan di dalam ruang dan waktu. Ingatlah, bahwa waktu itu bukanlah jam. Karena jam itu pun hanya menghitung. Waktu itu berdetak di dalam dada sadar manusia.

  1. Detak Pertama: Waktu sebagai Hakim

Sesungguhnya ia bagai hakim agung. Ia bersikap adil terkesan kejam, tidak sudi disogok dan waktu tak dapat diputar kembali.

Mengapa manusia selalu cemas di detak waktu? Ya, karena manusia merasa dirinya selalu dikejar.

“Eh, usiaku sudah 50 tahun.”

“Syukurlah kini putra/putriku sudah mendapat pekerjaan”
(Jadi, waktu bagi manusia laksana ‘kromos’, waktu yang menelan anak-anak seibu).

  1. Detak Kedua: Waktu sebagai Guru

Coba Anda hening sesaat, maka waktu itu akan berubah. Ia tidak lagi mengejar, tapi justru mengajar manusia.

Tengoklah, pada segala sesuatu pun berubah. Kini anak-anak kita sudah remaja, dewasa, dan bukan sebagai bayi lagi. Pada detak ini kita perlu terus belajar, karena tidak ada yang abadi.

  1. Detak Ketiga: Waktu sebagai Kekasih

Inilah detak waktu yang paling dalam. Kalaupun arlojimu berhenti berdetak, tapi hatimu tidak sudi berhenti berdetak. Apa buktinya? Kalau Anda duduk berdua dengan kekasih hati, waktu 120 menit pun terasa hanya lima menit. Jika Anda seorang diri menanti tibanya giliran antrean, sepuluh menit saja, akan terasa seolah 120 menit.

Maka, janganlah takut pada detak sang waktu. Baiklah dengarkan saja, karena di setiap detak pun berkata, “Kau masih di sini. Kau masih dicintai. Pulangmu masih ditunggu.”

Kediri, 2 Oktober 2026