Beo

“Tidak ada kata terlambat untuk bertobat.” -Rio, Scj.
Biara kami mempunyai burung Beo, tapi agak alami, hanya menirukan suara burung dan siulan. Tidak seperti kebanyakan burung Beo yang bisa menirukan kata atau kalimat. Tidak pernah dilatih mungkin. Bicara soal burung Beo, saya teringat sebuah kisah.
Ada sebuah keluarga memelihara burung Beo. Tiap pagi burung Beo ini selalu mendengar Tuannya berantem dengan istrinya. Burung Beo ini hanya merekam: “Matilah kau!”
Suatu kali tetangga berkunjung, ketika mengetuk pintu, Beo dari dalam langsung menyahut, “Matilah kau!” Teman lain yang berkunjung juga disambut dengan sahutan yang sama, “Matilah kau!”
Tuannya menjadi malu, dan berniat memberikan burung itu kepada Pastor parokinya, Romo Manggo. Akhirnya Romo menyetujui agar di Pastoran, siapa tahu burung itu bertobat.
Setelah sekian bulan, karena sering mendengar umat misa dan yang direkam Beo itu hanya satu kalimat: “Kabulkanlah doa kami, ya, Tuhan.” Maka Beo itu selalu bersuara “kabulkanlah doa kami ya Tuhan”. Saking senengnya Romo Manggo melihat pertobatan Beo itu, ia langsung mengembalikan ke pemilik sah Beo itu.
Dua hari kemudian Tuannya ribut di pagi hari dan selalu diakhiri “Matilah kau!” Kontan Beo itu menjawab, “Kabulkanlah doa kami, ya, Tuhan.”
Pesan sederhana untuk kita. Kadang kita ingin orang lain bertobat, tapi kita sendiri yang sulit bertobat. Kita ingin orang terdekat berubah, nyatanya kita sendiri yang enggan berubah. Kita ingin keluarga berubah baik, tapi kita yang masih tidak baik.
Jangan kalah dengan burung Beo, berubah dan bertobatlah, tidak ada kata terlambat untuk bertobat.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.