Refleksi Filosofis-Antropologis:
Ujung Lidah Sang Orator

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Bukannya seberapa hebat Anda berpidato, melainkan apakah ujung
lidahmu masih terhubung dengan hatimu?”
(Didaktika Hidup Sejati)

Ternyata seluruh anggota tubuh manusia selalu berjuang untuk melawan gravitasi. Hanya satu yang tidak, ialah ‘lidah’.

Lidah kita berada di dalam gua gelap. Ia tidak bertulang pun tak berakar. Dialah satu-satunya organ tubuh kita yang bebas. Maka, risikonya, bahwa ia akan sangat berbahaya.

  1. Secara Antropologis: Manusia adalah Makhluk di Ujung Lidah

Manusia adalah “zoon logon echo,” binatang yang memiliki kata-kata, demikian pandangan filsuf Aristoteles.

Hewan memiliki suara (phone) demi menyatakan rasa sakit atau pun senang. Tapi hanya manusia yang memiliki kata-kata (logos), untuk mengungkapkan, bahwa sesuatu itu benar dan salah atau adil dan tidak.

Ketahuilah, bahwa logos itu justru tinggal di ujung lidah manusia sepanjang 2 cm itu.

Di ujung lidah itu seorang manusia akan menjadi manusia. Bukankah seorang bayi akan sungguh menjadi manusia, justru di saat ia pertama kali berkata, “Mama” (bukan di saat ia mulai berjalan).

Sesungguhnya lidah itu adalah perbatasan terakhir antara dunia batin yang tak terlihat, dengan dunia luar yang nyata.

  1. Secara Filosofis: Lidah Sang Orator adalah Tempat Keajaiban dan Tipuan Terjadi

Pada Ujung Lidah Sang Orator terjadi 3 Mukjizat yang tidak bisa Dilakukan oleh Organ Tubuh lain

a. Ia Mencipta dari Ketiadaan

“Speech Act,” demikian J. L. Austin menyebutnya. Ketika sang Hakim berkata, “Sah!” Ketika Pastor berkata, “Aku membaptis engkau,” dan juga ketika Orator berkata, “Merdeka!” Maka, seketika itu juga dunia pun berubah.

Bukan karena tangannya yang bekerja, tapi karena lidahnya yang berkata. Bukankah kata-kata itu ternyata mampu menciptakan realitas?

b. Ia Menyembunyikan di Saat Menampilkan

“Bahasa itu adalah sebuah rumah keberadaan” demikian pandangan filsuf Heidegeer. Tapi di ujung lidah Orator, rumah itu bisa berubah jadi topeng. Ia bahkan bisa berkata, “Demi rakyat,” padahal demi dirinya sendiri. Maka, lidah adalah satu-satunya organ tubuh yang bisa berkhianat pada pikirannya sendiri. Bahkan tangan dan hati pun tak sanggup.

c. Lidah lebih tajam daripada pedang bermata dua, serta lebih lembut daripada tangan seorang Ibu.

Dari satu ujung lidah yang sama itu, maka bisa pula memicu perang dan bisa pula menyembuhkan luka batin. Di sinilah letak paradoksnya sekerat lidah.

Para leluhur kita telah berfilosofi dengan sangat tepat: “Ajining diri soko lathi.” Bahwa harga diri manusia tidak terletak pada sehelai ijazah, serta pula jabatannya. Tapi, sesungguhnya pada ‘ujung lidahnya.’

Pernyataan kritisnya, “Bukan pada seberapa hebat Anda berpidato, tapi apakah ujung lidah Anda masih terhubung dengan isi hatimu?”

Jika ternyata tidak, hal itu menandakan, bahwa Anda hanyalah ibarat gong yang gemerincing bunyinya.

Kediri, 29 September 2026