Menjadi Besar dengan Melayani

“Kebesaran sejati dimulai, ketika kita tidak lagi perlu menjadi yang terbesar. Tapi untuk melayani.”

Allah yang Maha Rahim,
Sabda-Mu mempertemukan dua kisah yang tampaknya sangat berbeda. Ayub kehilangan hampir segala yang dimilikinya, sementara para murid Yesus justru bertengkar tentang siapa yang terbesar. Tapi keduanya mengajarkan kami hal yang sama: apa yang dianggap penting oleh dunia bukanlah ukuran kebesaran di hadapan-Mu.

Ayub memiliki keluarga, kekayaan, dan kehormatan. Dalam sekejap semuanya hilang. Di tengah dukanya ia masih mampu berkata, “Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan.” Kebesarannya bukan terletak pada apa yang dimilikinya, tapi pada iman yang tetap melekat kepada-Mu, ketika semuanya lenyap.

Yesus menempatkan seorang anak kecil di sisi-Nya dan berkata, “Yang terkecil di antara kamu sekalian, dialah yang terbesar.” Para murid sedang memikirkan kedudukan. Yesus mengajarkan kerendahan hati, kesederhanaan, dan pelayanan.

Bapa, jauhkan kami dari keinginan untuk dianggap penting, dipuji, atau berada di atas orang lain. Ajarlah kami menemukan kemuliaan bukan dalam memiliki lebih banyak, tapi dalam mengasihi lebih banyak; bukan dalam mencari kedudukan, melainkan dalam melayani.

Ketika kami tergoda menghakimi atau menutup pintu bagi orang lain hanya karena mereka bukan “kelompok kami,” berilah kami kebijaksanaan. Jangan biarkan kesombongan kami menghalangi pekerjaan baik yang sedang Engkau lakukan melalui mereka.

Bentuklah hati kami menjadi sederhana seperti seorang anak: mudah percaya, tidak sibuk membuktikan diri, dan selalu siap mengikuti-Mu.

Semoga kami semakin kecil di hadapan-Mu, tapi semakin besar dalam kasih; rendah hati dalam melayani, dan semakin mampu berkata bersama Ayub, “Terpujilah nama Tuhan.”

Demi Kristus, Tuhan kami. Amin.

HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)