Jalan Sunyi

“Menjalani hidup seperti air yang mengalir itu baik. Menjadi makin bermakna, ketika kita menjalaninya ikhlas hati hingga tarikan nafas terakhir.” -Mas Redjo
Keteguhan hati itu tersirat jelas dari sorot mata Pak WD dalam bincang-bincang siang itu, ketika sepulang dari Gereja, saya dan istri mampir di rumahnya.
Jujur, dari Pak WD, saya terinspirasi dan termotivasi untuk tetap menulis motivasi dan kisah inspiratif, lalu membagikannya ke grup komunitas, pertemanan, dan sosmed.
Di usia senjanya, Pak WD (74) tetap aktif mengadmini Grup renungan Katolik, yang anggotanya beberapa biarawan/wati, dan dijalaninya sudah lebih dari 15 tahun. Meski sibuk pekerjaan di bidang IT, tapi ia piawai mengelola waktunya. Ramah dan wajahnya senantiasa cerah sumringah. Apa yang dicarinya?
“Keseimbangan hidup penuh syukur dan bahagia,” katanya sederhana. Anak-anak Pak WD sudah mentas dan mapan. “Jalan sunyi” itu istilah Pak WD yang setia melayani lewat grup WA.
Pikiran saya dibukakan oleh Pak WD, bahwa makna melayani Tuhan melalui jalan sunyi itu berarti kita mengasihi sesama dengan rendah hati.
Jika dunia mengajak kita untuk menjadi yang terbesar dan penting, Yesus mengajak kita untuk menjadi kecil dengan mengasihi sesama.
Sejatinya kebesaran seseorang di hadapan Allah itu bukan lewat jabatan, kuasa, popularitas, atau pengakuan, melainkan kerendahan hati, ketulusan, dan kesediaan kita melayani sesama dengan tulus ikhlas.
Di jalan sunyi, saya mengosongkan diri untuk diisi oleh firman Tuhan, lalu meneruskannya kepada sesama.
Mas Redjo
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.