Refleksi Simbolis:
Sekuntum Bunga Tanda Kasih

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Rosam Tibi Offero, Mater”
(Sekuntum Mawar Aku Persembahkan kepadamu, Bunda)

Jika kita merefleksikan tentang misteri ‘sekuntum bunga,’ berarti kita sedang merefleksikan tentang ‘rahasia Surga.’

Mengapa justru demikian?

  1. Bunga adalah ‘doa’ yang tidak butuh kata-kata.

Sekuntum bunga tidak pernah mau berbohong kepadamu. Ya, ia tak sanggup untuk berpura-pura mekar mewangi. Jika mulai mekar, itu menandakan, bahwa akarnya hidup. Jika ia layu, hal itu menandakan, bahwa hatinya sedang kersang merana.

Sama seperti Tuhan, Ia tidak menghitung panjangnya doa, tapi Ia hanya mau menatap pada kuntum-kuntum ketulusanmu.

  1. Bunga adalah Kasih yang Berani Mati

Bukankah sekuntum bunga tahu, bahwa dirinya akan layu dan mati, sejak ia dipetik? Tapi ia tetap menyebarkan aromanya. Laksana seorang kesatria sejati, Anda tahu dan sadar, bahwa kapan saja, mata tajam dari sebilah pedang akan menembus jiwamu, tapi ia akan tetap mekar.

Bukankah kasih itu sejati, dan ia tidak menuntut balas. Ia bahkan akan berkata, “Ambillah, biarpun aku akan layu, asalkan Engkau bersuka cita.”

  1. Satu saja Cukup

Surga itu pun tidak serakah. Karena ia hanya butuh setangkai bunga.

Kika Anda bertindak dan bersikap murni jujur, tulus, sederhana, rendah hati, serta sanggup mengampuni, maka akan berbahagialah kehidupan kita ini.

Janganlah Anda bertanya, “Apa yang bisa Anda persembahkan untuk Tuhan, Sang Maha Besar, tapi tanyalah ” Bunga kecil apa yang bisa kupetik hari ini dan kuletakkan di kaki Tuhan?”

Ya, senyumilah saja kepada dia yang telah dan sering menyakitimu.

Ya, itulah misteri keajaiban dari sekuntum bunga, itulah tanda, bahwa kasih itu masih bernyala di dalam relung dada sadarmu.

Kediri, 28 September 2026