Keaslian Kita

Seorang Pastor yang baru dua Minggu bertugas di Parokinya. Wajahnya seperti memberi kesan kurang bersahabat. Ia tidak banyak berbicara. Hanya tukang masak di Pastoran yang sudah memiliki cukup kesan dan pengetahuan tentang dia. Sedangkan para pegawai Paroki lainnya dan hampir semua umat belum mengenalnya secara dekat. Mereka semua tampaknya takut dan malu untuk bertemu serta berkenalan dengan dia, karena penampakan dirinya itu.
Alice, tukang masak itu memberikan keyakinan pada mereka, bahwa sesungguhnya sifat Pastor itu terbuka, tenang, dan memberikan rasa betah. Ia mengingatkan mereka supaya tidak menilai buku dari sampul atau kulitnya, penampakannya. Alice bertindak seperti pewarta yang istimewa, yaitu menonjolkan keaslian pribadi Pastor Paroki. Akhirnya perlahan-lahan semua orang mengenal dan menjalin kerja sama yang baik dengan Pastornya.
Tuhan memanggil kita masing-masing dengan keasliannya untuk menjadi seperti yang Ia kehendaki, bahwa kita harus menjadi sempurna seperti Bapa yang sempurna adanya. Setiap manusia diciptakan dalam keadaan baik, demikian kata Kitab Kejadian. Tapi kebebasan kodrati mengarahkan kota untuk memilih jalan Tuhan atau jalan yang berlawanan. Dari sinilah keaslian pribadi setiap orang semakin dipertegas dan terus dibentuk dalam perjalanan hidup selanjutnya.
Anak yang dikisahkan di dalam perumpamaan Yesus dengan penampilan jelek dan tidak taat itu sebenarnya memiliki keaslian diri sebagai orang baik. Nabi Yehezkiel juga menyinggung tentang keadaan orang beriman yang berdosa, tapi menyesali dosanya dan berusaha untuk membarui dirinya. Hal ini berarti mereka ingin kembali ke asalnya, yaitu sebagai ciptaan yang baik. Kita semua yang melewati proses pembaruan ini, meskipun pengalaman yang berbeda-beda, sebenarnya ingin menjadikan diri ini bersama menyerupai Kristus sebagai kepala kita. Sebagai anggota Gereja, meskipun kita berpenampilan berbeda-beda, tapi keaslian Gereja kita adalah suci.
Sedangkan anak berpenampilan bagus dan tampak penurut, sebenarnya adalah pribadi yang jelek. Nabi Yehezkiel berkata, bahwa orang yang memilih untuk hidup dalam kejahatan adalah mereka yang meninggalkan keasliannya. Penampilannya tidak menggambarkan keasliannya. Kita dapat bertanya pada diri sendiri: apakah kita sedang mendekati keaslian atau sebaliknya sedang menjauhi keaslian kita?
“Ya, Allah, berkatilah dan kuatkanlah kami supaya selalu setia di dalam jalan-Mu. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.