Refleksi Filosofis:
Amor Gignit Amorem

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Janganlah menyatakan cintamu
dengan setangkai mawar, tapi ucapkan cinta tulusmu dengan segelas racun.”
(Misteri Cinta Sejati)

Adagium ‘Amor Gignit Amorem’, bukanlah sekadar sebuah ekspresi puitis, melainkan ini adalah hukum alam, ya, sebagai sebuah hukum kehidupan.

Kita sering merindukan, dan bahkan melestarikan konsep ‘Amor Petit Amoren’, cinta yang menuntut cinta.

Jika memang demikian, Anda justru sedang berhalusinasi dan bertransaksi. Mengapa? Ya, karena itu adalah hukum ‘jual-beli’, hukum yang di ujungnya, justru sangat melelahkan hidup Anda.

Jika ‘cinta sekadar menuntut cinta’, ‘Aku mencintaimu, maka kamu pun harus mencintai aku.’ Nah, itulah hukum jual-beli, bukan?

Perlu diingat, bahwa realitas hidup ini membuktikan orang-orang bijak di zaman kuno tidak menuliskan ‘amor petit amorem’ tapi justru ‘amor gignit amorem.’

Camkan, adapun kata kuncinya terletak pada kata ‘gignit’ yang bermakna melahirkan, menggenerasi, atau menumbuhkan dari dalam. Ya, artinya dia itu bagai rahim yang melahirkan anak-anak.

Inilah Sejumlah Makna di Baliknya

a. Cinta itu bukanlah pengemis, tapi ia justru akan melahirkan. Bukankah api pun tak pernah meminta, “Berikan aku panas?” Tapi, ia akan bernyala dan mampu menghangatkan. Anda pun saya, janganlah sekali-kali mau memaksakan agar orang-orang lain untuk mencintaimu.

Tugas sucimu ialah ‘cintailah!’ Lewat cara luhur itu, maka cintamu pun akan mekar di dadamu dan di dalam hati orang lain tanpa Anda memintanya.

b. Yang lahir selalu serupa dengan yang melahirkan

Falam konteks ini, bukankah sikap curiga akan melahirkan curiga?” Ya, jika, Anda melahirkan kemurahan, maka yang akan kembali adalah sikap kemurahan juga.

Sadarilah, bahwa dunia ini adalah sebuah rahim raksasa. Sekali lagi, ‘kebencian pun tak pernah akan melahirkan sebuah cinta.’ Camkan itu!

c. Cinta itu satu-satunya yang semakin dibagi justru akan semakin bertambah

Ingatlah harta benda, jika dibagi, maka akan habis. Jika cinta yang dibagi, justru akan beranak-pinak.

Bukankah, jika seorang Ibu sungguh mencintai anaknya, maka ia melahirkan seorang anak yang akan mampu mencintai dunia?

Jadi, berhentilah untuk bertanya, “Siapa yang mencintai saya hari ini, dan di sini?” Tapi, bertanyalah, “Cinta apa yang telah saya lahirkan hari ini dan di sini?”

Dunia ini kekurangan cinta, justru karena kita lupa melahirkan cinta!

Kediri, 25 September 2026