Menantu Idaman

“Setuju atau tidak setuju dengan hubungan asmara anak, orangtua itu wajib merestuinya.” -Mas Redjo
Mempunyai calon menantu idaman itu membahagiakan hati orangtua. Jika ternyata pilihan anak itu tidak cocok dengan orangtua…?!
Realitas itu sering dijumpai di sekitar kita. Orangtua yang kecewa, terluka, dan sakit hati. Karena anak keukeh dengan pilihannya. Bahkan anak berani memprotes, melawan, mengancam, dan nekat kabur dari rumah, jika orangtua tidak merestui.
Mengapa kita harus saling berkeras hati dan melukai, sehingga berakhir mentok di jalan buntu?
Tidak ada gunanya kita mencari yang benar atau salah, jika untuk pembenaran diri dan egoistis.
Orangtua mempunyai keinginan dan harapan pada calon menantu idaman itu tidak salah. Tapi tidak untuk memaksakan kehendak dan anak harus menuruti. Begitu pula sikap anak yang keukeh, bahkan berani melawan atau mengancam orangtua.
“Jalan yang terbaik itu adalah kita bicara dari hati ke hati,” kata AY membagikan pengalamannya. Anak perempuannya, DM yang sukses berkarier itu ingin menikahi pegawai rendahan yang beda bagian, meski di instansi yang sama.
AY dan istri shock. Mereka berharap agar DM yang kariernya cemerlang itu berjodoh dengan laki-laki yang selevel, terpandang, terhormat, atau mempunyai usaha sendiri. Faktanya sungguh mengecewakan. Memang tidak ada laki-laki lain?
Malu dan kecewa berat itu pasti. Tapi sebagai orangtua, AY sekadar urun saran untuk berpikir jernih agar DM tidak pilih atau langkah dalam menentukan masa depannya.
AY juga sadar, DM sudah dewasa. Ia tidak bisa menghalang-halangi atau melarang DM mengurungkan niatnya.
“Kami sebagai orangtua harus berbesar hati untuk mengalah, memberi restu, dan mendoakan yang terbaik. Karena mereka yang menjalaninya,” tegas AY bijak.
Mas Redjo
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.