Seperti dan Seandainya
Mosaik Serpihan Kelana -54
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores

Seperti paduan suara jangkrik di antara rerumputan kering
untuk merayu gulita agar tersenyum
Dan
kunang-kunang menghiasi hening malam dengan dawai ketulusannya
Aku coba menghitung jari dan menatap telapak tanganku
Aku bertanya pada kedua kakiku
mengapa tak pernah ingin menjadi bibir untuk berbicara
Seandainya aku punya sayap kokoh
aku ingin terbang mengiringi cahaya mentari untuk menghindari malam gelap gulita
Seperti alunan lagu burung-burung di antara embun pagi dan percikan cahaya mentari
Mereka memanen harmoni mengenyangkan lapar, meskipun tidak pernah menabur dan bertani
Aku cemburu dan merayu kelicikan diri untuk menjadi burung saja
Seperti orkestra planet angkasa dengan syair semesta, meskipun tidak semua peduli dan paham bahasanya
Aku ingin belajar bahasa alam dan literasi planet angkasa
Seandainya kata dan angka manusia dipakai dengan jujur
apakah masih ada panggung sandiwara peradaban terjadi
Seperti luasnya keikhlasan samudra menerima air dari hujan angkasa dan aneka sungai
juga berbagai sampah dari kebodohan manusia
Malahan Bunda samudra masih bermurah hati
menyiapkan aneka lauk makna dari rahimnya
Siang malam tak henti datangkan ombak kasih dan gelombang cinta mencium jemari dan memeluk kepapaan pantai pasir insani
Aku kagum pada nelayan sahaja yang penuh yakin membawa kail dan umpan harapan
memohon rezeki kepada ketakpastian nasib
Seandainya kita sadari diri sebagai pengemis papa di hadapan alam jagat ini
mungkin masih ada kerendahan hati dan kejujuran
Seperti Tuhan dan agama
ramai-ramai diciptakan pribadi
lalu biasa dipermainkan dengan aneka ornamen
Biasa disembah dalam perlombaan gengsi dan pawai kesombongan
karena bisa mengumbar selera atas nama agama dan Tuhan
Bahkan berani dicaci maki dan dijadikan boneka atau sampah
Jika tidak sesuai selera dan hasrat birani
Aku menggigil ketakutan karena tidak mampu menciptakan Tuhan
Aku pun bingung menyaksikan anak pewaris ragam organisasi agama
yang saling memfitnah serta mengklaim sebagai pemilik tunggal kebenaran Ilahi
Sejatinya apa dan siapakah Tuhan itu
Untuk apa dan siapakah aneka agama itu diciptakan
Seperti kawanan ikan tak mungkin berjalan-jalan di tengah hutan rimba
sambil melompat antara dahan pepohonan mencari buah
Seperti margasatwa dan burung-burung tidak berenang dalam danau dan menyelam ke dasar lautan
Aku coba menutup hidung dan mulut
untuk menghitung berapa lama bisa bertahan tanpa udara bagi alat pernafasanku
Seandainya ada sehelai terima kasih dari kewarasanku
Seandainya ada serpihan puing syukur dari pojok abu-abu lembaran nuraniku
dan sebutir debu iman di muara kelam sanubari jiwaku
Mungkin aku bisa menjadi bagian dari harmoni semesta
Mungkin aku ikut hadirkan damai bagi sesama
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.