Jangan Pensiun untuk Berbuat Baik

“Berbuat baik itu sebagai nafas orang beriman, karena kita telah dihembusi nafas-Nya (Kej 2: 7).” -Mas Redjo
Sebagai makhluk ciptaan Tuhan, hidup sekadar bersosialisasi dan basa basi itu tidak cukup, tapi harus dimaknai. Kita telah dinafasi-Nya agar hidup ini menjadi saluran berkat-Nya (Mat 5: 16).
Kasih Tuhan membuka hati dan menyadarkan saya. Jujur, semula orientasi saya sekadar ingin hidup mandiri dan mapan. Pengalaman iman dijamah Tuhan mengubah pemahaman saya, bahwa hidup yang bermakna itu harus dibagikan pada sesama.
Saya sadar-sesadarnya dengan hidup yang terberi agar kita juga murah hati. Bahkan, ketika saya meminta kepada Tuhan, Ia memberi jauh di luar harapan saya, hingga berkelimpahan.
Pengamanan iman itu membuka hati dan menyadarkan saya. Dengan berbagi ikhlas hati pada sesama, Tuhan memudahkan hidup kita.
Berbagi kepada sesama itu tidak kenal istilah pensiun seperti yang dicontohkan oleh banyak senior saya. Bukan berarti mereka malas mundur, tidak memberi kesempatan pada yang lebih muda, melainkan tetap aktif agar tidak cepat pikun. Mereka beraktivitas untuk menjaga tubuh agar tetap bugar, sehat, dan bahagia.
Benang merah yang dapat saya simpulkan dari semangat keaktifan mereka adalah, melakukan hal-hal positif dan baik itu sepanjang hidup dan tidak kenal pensiun.
Menarik untuk digarisbawahi dari sikap inspiratif mereka itu adalah, perbuatan baik sebagai investasi surgawi. Ketika semua itu dijalani ikhlas hati sebagai pujian syukur kepada Allah.
Jangan pensiun untuk berbuat baik!
Mas Redjo
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.