Hati yang Berbicara

Gereja kita merayakan pesta Santo Matius, Rasul dan pengarang Injil. Ia adalah anak Alfeus yang berasal dari Capernaum di sekitar danau Genesaret. Ia dikenal sebagai pemungut pajak Romawi, suatu pekerjaan yang dibenci oleh orang-orang sedaerahnya, karena memihak kepada penjajah.

Matius dianggap pendosa berat, dan Yesus dikritik keras, karena menjadikan dia salah seorang murid-Nya. Tapi Yesus beralasan, bahwa tugas-Nya ialah sebagai penyembuh jiwa-jiwa yang berdosa.

Matius dipercayai sebagai penulis Injil Tuhan, dan menjadi Rasul yang menginjili daerah Ethiopia. Proses Matius, seorang pendosa paling dibenci orang-orang di sekitarnya itu menjadi murid Yesus merupakan suatu gerakan hati yang dipenuhi oleh kuasa Allah.

Tuhan Yesus memiliki hati yang penuh belas kasih. Ia melihat dengan hati-Nya dalam memilih orang-orang yang menjadi partner bekerja. Dalam profesinya sebagai pembantu penjajah Romawi untuk memungut pajak masyarakat, Matius memiliki hati yang tulus dan terbuka kepada Tuhan yang menemui dan memilihnya. “Nothing to loose,” ia tidak terikat atau tidak bergantung pada pekerjaannya. Ia meninggalkannya untuk mengikuti Yesus.

Jika kita membiarkan hati yang mengerti, memilih, dan berbicara, hasilnya adalah kebenaran. Faktanya adalah Tuhan berkenan tinggal di dalam hati nurani manusia untuk memberikan nasihat bijak dan murni di kala kita mengambil keputusan. Pikiran sering berputar-putar dengan kemampuan rasionalisasi, imajinasi dan spekulasi, misalnya untuk membela diri, kesombongan, mencari kambing hitam dan sebagainya. Tapi hati, jika berpikir dan berbicara maka orang akan hidup selalu dalam tuntunan Roh yang satu dan suci. Hati mereka masing-masing berbicara tentang panggilan yang unik dari Tuhan dan mereka berusaha hidup sesuai dengan panggilannya itu.

Santo Paulus berkata dalam suratnya kepada jemaat di Efesus, bahwa setiap orang diharapkan menggunakan karunia Roh yang unik pada dirinya untuk dapat mewujudkan hidup yang bersatu dalam satu Tuhan dan satu iman. Matius, meskipun pikirannya sibuk tentang urusan pajak dan mendapatkan keuntungan dari pekerjaan itu, hatinya jelas rindu akan Tuhan. Dengan pekerjaannya itu, ia menyadari tidak bisa masuk ke dalam sinagoga untuk mendengarkan firman Allah dan berdoa. Ketika bertemu Yesus, kedua hati mereka dipenuhi kuasa Allah langsung tersambung. Dua kata: “Ikutilah Aku” dari Yesus segera mengubah hidup Matius. Ia berkeputusan untuk mengikuti Yesus. Bagi kita, berbicara dengan hati merupakan kesempatan untuk menguatkan panggilan kita.

“Ya, Tuhan Yesus Kristus, tinggallah selalu di dalam hati dan baharui hidup kami sesuai dengan kehendak-Mu. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)