Menjadi Murid yang Setia dan Bertanggung Jawab

Santo Paulus memberikan penekanan kepada jemaat di Efesus supaya menjalankan pola hidup yang sesuai dengan panggilan yang telah diterima. Pola hidup yang dia maksudkan adalah rendah hati, lemah lembut, dan sabar. Paulus juga melanjutkan penekanan itu dengan mengatakan, bahwa setiap orang yang percaya menerima kasih karunia menurut ukuran pemberian Kristus dan diberikan peran sebagai Pengajar, Nabi, dan Gembala dengan tujuan untuk membangun tubuh Kristus.

Gereja merayakan pesta Santo Matius, Rasul dan pengarang Injil. Ia adalah seorang pemungut cukai. Pekerjaannya itu memberikan penilaian buruk terhadap dirinya dari semua orang. Tapi Yesus tidak menilai dirinya sebagai seorang yang buruk. Yesus memanggil dia untuk menjadi saksi terhadap diri-Nya. Yesus berkata kepadanya, “Ikutilah aku” (Mat. 9: 9). Panggilan yang dialami Matius merupakan panggilan atas dasar kasih dari Allah melalui Yesus, Putra-Nya. Panggilan ini merupakan suatu rancangan Ilahi untuk keselamatan Matius dan keterlibatannya dalam karya keselamatan Allah.

Panggilan yang telah kita terima merupakan bagian dari kepedulian Allah. Kita yang diberi tanggung jawab mesti mampu setia terhadap tugas itu. Kita belajar untuk menjadi murid yang setia dalam berbagai masalah kehidupan. Saatnya kita menjadi saksi bagi Kristus.

“Ya, Allah yang Maha Rahim, mampukan kami menjadi murid-murid yang setia dan bertanggung jawab terhadap tugas yang kami terima dari-Mu. Amin.”

Ziarah Batin