Memberi Sesuai Kemampuan

Ada sebuah cerita tentang pertengkaran kecil antara langit dan bumi. Suatu kali bumi mendesak supaya langit berganti posisi dengannya. Rupanya bumi iri hati dengan langit. Ia memandang, bahwa langit jauh lebih indah dan selalu dipuja. Karena manusia selalu menunjuk ke langit setiap kali menunjuk tempat Tuhan yang Maha Kuasa.

Menanggapi keluhan bumi itu, langit dengan bijak berkata, bahwa bumi pasti tidak mampu menempati posisi-nya di atas sana. Demikian juga langit tidak akan cocok menempati posisi di bawahnya. Masing-masing sudah ditempatkan seperti itu dari awalnya oleh Sang Pencipta. Mereka memiliki jati dirinya yang tidak bisa digantikan oleh apa pun dan siapa pun. Masing-masing memiliki tugas yang sudah diberikan oleh Tuhan, seperti yang dikisahkan di dalam kitab Kejadian, dan mereka harus bertanggung jawab untuk mengemban tugas tersebut.

Singkatnya, baik langit maupun bumi memiliki tanggung jawab untuk saling memberi sesuai kemampuan. Demikian pula seluruh isi langit dan bumi bertanggung jawab untuk saling memberi sesuai dengan kemampuannya. Surga dan dunia juga memiliki tanggung jawab yang sama. Tentu saja baik Tuhan dan manusia terdapat suatu jalinan kasih dan masing-masingnya saling melayani dan memberikan sesuai kemampuannya. Untuk memelihara saling memperhatikan satu sama lain itu, sangat dibutuhkan saling percaya dan saling menghargai. Tidak boleh ada iri hati dan benci di antara mereka.

Tuhan memiliki kuasa untuk menguasai dan mengatur hidup manusia dan biarlah Dia melakukan itu sesuai kehendak-Nya. Sedang manusia bertugas menjalankan kehendak Tuhan, dan biarlah ia melakukan itu dengan tanggung jawab. Tugas manusia ialah ketaatan kepada Allah dan menjalankan perintah-Nya, maka ia harus mengikuti rancangan Tuhan. Ia harus mencari-Nya selalu untuk mendapatkan petunjuk dari-Nya tentang hidup yang baik dan benar.

Tuhan Yesus mengajarkan tentang tugas masing-masing dari Tuhan dan upah yang didapatkan setelah menjalankan tugas itu. Tuhan yang menentukan dan kita para hamba-Nya menjalankannya. Kita tidak boleh bermain dengan kesukaan dan standar sendiri. Karena hal itu adalah dosa melawan Dia.

Santo Paulus mengajarkan, bahwa demi suatu gaya kehidupan yang mengutamakan pemberian atau persembahan sesuai dengan kemampuan masing-masing, hendaknya hidup kita selalu berpadanan dengan Injil Kristus. Kita memberikan sesuatu dari diri ini demi kemuliaan Tuhan dan persiapan kita untuk suatu kehidupan kelak bersama dengan Kristus. Kita hendaknya memberi dengan kasih Tuhan.

“Ya? Tuhan, penuhilah kami dengan karunia kemampuan memberi dengan tulus dan adil. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)