Merawat Bumi sebagai Rumah Bersama

“Tinggallah sesuka hati di bumi, karena bumi tidak butuh manusia untuk tetap menjadi bumi. Manusia yang butuh bumi untuk tetap menjadi manusia sampai sewanya habis.” -Rio, Scj.
Kita manusia datang ke bumi tidak membawa apa-apa. Kita lahir telanjang! Bumi itu rumah kita bersama. Tidak ada akta atas air sungai, tidak ada izin penggunaan udara, dan tidak ada sertifikat kepemilikan laut, bahkan hak guna energi matahari. Semua itu gratis.
Nyatanya sekarang, yang gratis itu seolah harus ada yang memiliki. Kita bebas tinggal di bumi sesuka hati, tapi seolah kita adalah pemilik. Menggali tanah sesuka hati, mengubah laut menjadi tong sampah, menebang pohon seolah kita adalah penanamnya. Menguasai bumi untuk memperkaya diri. Nyatanya saat bumi mulai merenovasi diri, kita menyebutnya musibah dan tragedi. Saat bumi menyembuhkan luka, kita menyebut bencana.
Saat NASA sampai ke Mars, manusia bermimpi menyebutnya bumi kedua, dan manusia bisa tinggal di Mars, saat bumi sudah tua. Bukankah kita tinggal di bumi tidak dipasang tarif. Sampai kita pun jompo tidak ada tanggal jatuh tempo. Bumi hanya berkata, tinggallah sesuka hati, karena bumi tidak butuh manusia untuk tetap menjadi bumi. Manusia yang butuh bumi untuk tetap menjadi manusia sampai sewanya habis.
“Rawat dan cintailah bumi sebagai rumah kita bersama.”
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.