Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
Red-Joss.com | Rubrik harian Kompas, Sabtu, 11 Maret 2023, kolom Karier, Karier Experd, menulis tentang “Krisis Nurani.”
Masyarakat kita sudah dikenyangkan dengan istilah kata “krisis.” Semisal, krisis moral, krisis etika, krisis sosial, krisis panggilan, krisis iman, krisis air, krisis akhlak, krisis kejujuran, dll.
“Krisis Hati Nurani” (crisis of conscience), adalah judul sebuah biografi, karya Raymond Franz (1983), membicarakan hal krisis ini.
Belum lama ini, kita mengelus dada batin lagi, karena ada seorang anak di bawah umur yang “dianiaya.”
Atau juga, lewat sebuah peristiwa, ketika seorang tokoh agama yang terus menerus “melontarkan kata-kata kasar serta cercaan” kepada petinggi negara. Maka, nurani kita ini pun terenyuh.
Nurani manusiawi kita ternyata “memberontak”, karena terjadi tindakan “menganiaya” secara brutal serta serta atas “lontaran kata-kata kasar” itu.
Saudaraku, dari mana datangnya sang virus mahaganas “krisis kemanusiaan” ini?
Tentu, datang dari dasar lubuk jiwa, dari kekacauan sumur nurani sang manusia itu sendiri.
Manusia yang kualitas nuraninya bagaimana? Sesungguhnya, yang terjadi di sini, ialah “melemahnya suara hati.”
Mengapa suara hati sang manusia itu justru kian melemah dan merosot?
Saya, justru melihat hal ini, pertama-tama datangnya dari dalam sebuah keluarga. Pedulikah kita sebagai orangtua atas kesalahan-kesalahan kecil anak kita di rumah? Atau kita orangtua justru membiarkannya.
Ingatkah, lambat laun, anak-anak kita ini akan terbiasa dengan hal negatif, justru, karena sudah menjadi sebuah kebiasaan.
Bukan mustahil, lambat laun, suara hati anak-anak kita akan mati. Yang hadir dan ada ialah anak-anak kita yang sikapnya sombrono dan tidak peduli lagi kepada tata etika serta tata kesopanan. Hal ini bermakna, suara hati generasi muda kita telah sirna, mati, dan terkubur di dasar lembah maut.
Kini, pahamilah saudara, bahwa sesungguhnya, kita sedang memetik buah ranum dari cara mendidik kita yang serba membiarkan. Kini, giliran kita bagai menuai badai berupa “krisis nurani.”
Saudaraku, tugas teramat berat dan besar kita kini, ialah berupaya “mencegah” matinya nurani manusiawi dari generasi muda kita.
Bagaimana dan apa senjata pamungkasnya agar generasi muda kita ini tidak kehilangan nuraninya?
Dasar edukasinya dari rumah keluarga. Juga dari ketulusan para guru dan dosen di sekolah dan kampus.
Negara kita sudah dikenal gencar dengan pendidikan moral Pancasila dan apalagi pendidikan agama yang dikenal sangat intens.
“Saudaraku, nuranimu adalah fondasi dasar dari kataktermu!”
Maka, para orangtua, para guru dan dosen, para petinggi masyarakat perlu memberikan dan menanamkan “suri teladan” baik.
Janganlah kita terlambat sebelum wabah maha mengerikan ini menggerus pilar-pilar dasar akhlak kemanusiaan kita.
…
Kediri,ย 12ย Maretย 2023
…
Foto ilustrasi: Istimewa

