Samudra Kerahiman Tuhan

“Aku menari mengikuti irama kasih Tuhan. Melepas dosa masa lalu di samudra ampunan-Nya.” -Mas Redjo

Terima kasih, Tuhan. Karena Engkau berkenan, sabar, dan telaten sekali mengajari saya menari dengan hati, sehingga tubuh ini menjadi nyaman.

Berbeda, bahkan bagai bumi dan langit. Ketika saya menari seorang diri sambil meliuk-erotiskan tubuh ini agar banyak orang ternganga memuji dan mengagumiku.

Wow! Tepukan tangan itu membuat saya serasa mengawang-awang ke langit tinggi, hingga lupa diri.

Faktanya, ketika tiada lagi seorang pun yang menari mengikuti iramaku hati ini jadi kecewa dan sakit. Saya merasa ditinggalkan dan nelangsa.

Dengan peristiwa ditinggalkan sendirian yang menyakitkan itu, sejatinya Engkau mengingatkan saya. Ketika dikecewakan, beda pendapat, atau berseberangan dengan orang lain itu untuk berefleksi: mau mengikuti kehendak sendiri atau kehendak-Mu. Demi gengsi dan validasi atau rahmat-Mu.

Bersyukur, karena Engkau selalu mengingatkan saya dengan belas kasih. Ketimbang minta dimengerti orang lain, lebih bijak kita belajar untuk memahami dengan berbesar hati agar tidak kecewa, dan melukai diri sendiri.

Memahami orang itu sumbernya dari hati yang mengasihi, seperti Engkau mengasihi kami. Bahwa rahmat-Mu jauh lebih dahsyat dari kesalahan dan dosa kami. Karena Engkau adalah kasih.

Dalam samudra kerahiman Tuhan, aku temukan diriku yang hilang. Untuk memulai hidup baru, dan semoga berkenan bagi-Mu.

Mas Redjo