Terbenam

“When you cant find your sunset, be that sunshine.” -Rio, Scj.

Secara perlahan nan indah matahari itu menghilang di balik Gunung Tanggamus. Perlahan, warna kemerahan dan keemasan itu berubah kelam, malam pun datang. Itulah keindahan matahari yang tenggelam. Menakjubkan saat mau pergi, gelap saat matahari terbenam. Dari indah mempesona berganti gelap menakutkan.

Begitu hidup antara ‘sunset’ dan ‘sunrise’. Awal dan akhir sama-sama ada dalam ketidakpastian. Kita lahir ke dunia: mungil, imut, dan menggemaskan. Bersinar terang sampai pada puncak dewasaan. Lalu perlahan mulai meredup dan menghilang dalam kematian.

Jika hidup hanya berkutat pada awal dan akhir, bisa dipastikan ketakutan dan kekhawatiran yang dirasa. Hidup ini bukan soal awal dan akhir ada rentang perjalanan, lembar demi lembar catatan kehidupan yang harus dituliskan. Melainkan ada proses bertumbuh yang harus dijalani. Momen senang dan sedih, sehat dan sakit, berkat dan terpuruk, serta bahagia dan derita. Itulah perziarahan hidup dengan berjuta kejutan. Dalam rentang perjalanan itu kita tidak sendiri. Ada orang-orang yang datang dan pergi, menolong dan menjatuhkan, mendukung dan yang berkometar. Yang pasti adalah Tuhan yang selalu mengulurkan tangan memberkati dan mengurapi. Tuhan membuat hidup ini berharga, indah, penuh warna, dan sarat makna.

Hari pasti akan berakhir, matahari akan terbenam, dan hidup diakhiri dengan kematian. Namun dalam proses perjalanan dengan sejuta kejutan yang membuat diri, sesama dan Tuhan tersenyum, sudah cukup membuat hidup beralih pada keabadian. Ingat jika tak menemukan cahaya dalam hidupan jadilah cahaya dalam setiap saat perjalanan.

Deo gratias.

Rm RP Rio, Scj