Red-Joss.com | Coba bertanya pada diri sendiri. “Berapa harga kita di mata Tuhan?” Atau, coba simak makna orang terdekat bagi kita.
“Mas, apa yang membuat almarhum begitu berharga sampai panjenengan undang warga untuk mendoakannya?” tanyaku pada tuan rumah yang memperingati 40 hari Bapaknya.
“Bu, kadang Ibu suka menangis, kalau cerita tentang almarhum. Apa yang membuat almarhum begitu berharga buat Ibu?” tanyaku. “Aduh Pak, untung suamiku dulu dapat pensiun. Saya kan ‘full house wife’. Bayangkan, Pak, jadi apa kami kalau tak ada pensiun. Bagaimana nasib anak saya coba? Walau suami sudah tiada, tapi tetap menjadi pelindung.”
Kepada seorang Ibu yang suaminya stroke dan tak mampu lagi bekerja, lumpuh, tergolek, saya bertanya: “Apa yang berharga dari suami Ibu sampai Ibu mau berlelah-lelah ke sana ke mari, jualan teri, ikan asin, dan apa saja. Padahal dia tak bisa apa-apa lagi” Jawab Ibu itu dengan yakin, “Karena dia suami saya.”
Lantas kira-kira, “apa yang membuat kita berharga di mata Tuhan.“ Padahal mungkin sebagai orang Katolik, kita tidak seberapa rajin ke gereja, tidak aktif di lingkungan, kurang murah hati, owel kalau memberi, mudah membanggakan diri, mudah menilai orang lain, kurang solider pada orang yang tidak sekelas. Walau demikian kita tetap diberi rejeki, pekerjaan, nama baik, dihormati oleh para tetangga, setelah usai kerja juga punya pensiun yang ajeg.
Segitu berharganyakah diri kita ini di mata Allah sampai DIA menukarnya dengan hidup Putera Tunggal-Nya?
Tetaplah siaga menjaga harga hidup kita sendiri.
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

