Refleksi Humanitas:
Secangkir Madu dan Racun

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Saudara, hari ini Anda mau menyodorkan cangkir yang mana?
(Ujian Suara Hati)
Makhluk manusia itu memang sering tampil agak aneh-aneh, dan kadang-kadang agak angkuh, bahkan terkesan juga serba paradoks. Mengapa?
Ya, lewat uluran tangan yang sama, ia bahkan sanggup menyenduk secangkir madu untuk orang lain, dan pada kesempatan lain, ia bisa meracik secangkir racun untuk saudaranya sendiri.
Itulah Humanitas!
Ironisnya, bahwa kemanusiaan itu adalah suatu kesadaran di dalam diri yang satu dan sama itu, justru bisa terdapat dua buah cangkir. Sejatinya, Anda mau menyodorkan cangkir yang mana?
- Secangkir Madu
Jika Anda ternyata dapat tetap bersikap lembut, di kala dunia justru menyuruhmu untuk bersikap keras; juga kalau Anda mendengar dengan tanpa menghakimi, menolong tanpa perlu disiarkan, atau Anda mampu memaafkan, karena tidak ingin hatimu jadi penjara bagi dendam kesumat. Maka, itulah secangkir madu dari uluran tanganmu.
Madu adalah cairan yang tidak berisik. Ia lembut dan pelan, bahkan dapat menyembuhkan. Ingatlah, bukankah demi menghasilkan madu, lebah harus bekerja keras ribuan kali. Demikian manusia, ia harus mampu mengalahkan egonya ribuan kali pula, bukan?
- Secangkir Racun
Racun itu memang licik tabiatnya. Ia juga munafik lewat tampilannya yang seolah-olah sopan.
Ia bahkan bisa tampilkan seuntai doa, tapi yang berisi hinaan atau menggosip, walaupun dibungkus rapi.
Ketahuilah, bahwa racun yang paling mematikan itu, justru bukanlah dengan membunuh tubuh, tapi secara halus ia membunuh aneka potensi Anda. Kala empatimu telah mati, maka segala kekejaman pun jadi masuk di akalmu.
Di sisi lain, bukankah racun itu justru enaknya hanya di bagian awal, tapi justru akan sangat mematikan di bagian ujungnya. ‘In cauda venenum est’, kata orang Latin.
- Humanitas adalah Jeda di Antara Keduanya
Di manakah Letaknya Humanitas?
Manusia itu makhluk yang tidak selalu dan selamanya berhati murni. Itu justru terletak pada jedanya. Jeda antara stimulus dan respons. Antara emosi dan aksi, lalu lahirlah sebuah pertanyaan paling kritis, “Cangkir yang manakah yang akan Anda sodorkan hari ini?”
Pribadi yang humanis itu bukanlah dia yang tidak pernah marah, tapi dia yang tidak rela untuk membiarkan amarahnya dengan menyenduk minuman untuk orang lain.
Ya, sekali lagi diajukan pertanyaan:
“Hari ini, Anda mau menyodorkan cangkir yang mana dan untuk siapakah?”
Kediri, 16 September 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.