Ibu yang Mengampuni

Hari ini Gereja kita memperingati Bunda Maria yang berdukacita. Pengalaman duka Maria sangat berkaitan dengan salib penderitaan Yesus Kristus. Ketika menjalani hukuman mati, Yesus sendirian. Para Rasul meninggalkan Dia, kecuali Ibunda-Nya dan murid yang sangat dikasihi-Nya, Yohanes. Maria, Bunda Yesus dan tiga wanita lainnya berada di dekat salib itu.

Maria mengalami puncak kedukaan, yaitu kematian Putra yang lahir dari rahimnya. Jauh sebelumnya, ketika bayi Yesus dipersembahkan di Bait Suci, Simeon telah meramalkan, bahwa Maria akan menemui penderitaan yang mengerikan, sebilah pedang akan menembus jiwanya. Ia mengalami penderitaan bersama Yesus hingga di Kalvari. Banyak yang menyebut Maria sebagai seorang Martir dalam roh. Tapi Maria tidak kalah dan menyerah dengan duka dan kehilangan yang dialaminya, karena iman dan harapannya ditopang oleh iman kepada Allah dan kasih kepada Putranya.

Sebagai bukti imannya yang kuat, kekuatan pengampunan Bunda Maria sama kualitasnya dengan yang diungkapkan oleh Yesus dari atas salib: Bapa, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu yang mereka perbuat. Dari atas salib itu juga Yesus memandatkan Ibu-Nya untuk mengadopsi semua pengikutnya dari segala zaman, yang diwakili oleh murid yang dikasihi itu. Maria patuh pada tugas itu untuk menerima semua orang, termasuk yang menghukum mati Yesus, agar mereka juga diampuni, disadarkan, dan dibawa kembali kepada kebenaran.

Sampai saat ini, Bunda Maria dalam persekutuannya dengan Yesus Kristus masih tetap sedih, jika melihat para murid Yesus jatuh ke dalam dosa dan berusaha keras untuk melepaskan cengkeraman dosa. Ulah mereka jelas mendatangkan derita dan sakit pada tubuh Kristus, yaitu Gereja ternoda. Jika sebagian anggota Gereja berdosa dan berbuat jahat, tentu sangat memengaruhi anggota-anggota lainnya. Tapi lebih daripada bersedih dan berduka, hati Bunda Maria yang pengampun meminta pada Yesus Kristus untuk mengampuni dan menobatkan mereka. Bagian dari doa “Salam Maria,” yaitu “doakanlah kami yang berdosa ini…” adalah ungkapan paling nyata, Bunda Maria ikut mengampuni kita.

Memikirkan Bunda Maria yang berduka, hendaknya menyadarkan kita untuk tidak terus-menerus membuatnya larut dalam duka. Karena dosa itu juga berarti sama dengan kita yang tidak ingin terus-menerus membuat Ibu di rumah bersedih, karena kenakalan dan kesembronoan kita.

“Ya, Tuhan Yesus Kristus, kuatkanlah kami untuk senantiasa mempunyai devosi yang benar dan bertahan kepada Bunda Maria, Bunda kami yang selalu mengampuni. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)