Kasih yang Menjadi Tanda Murid Kristus

“… dan sesudah Ia mencapai kesempurnaan-Nya, Ia menjadi pokok keselamatan yang abadi bagi semua orang yang taat kepada-Nya” (Ibr 5: 9).
Mengasihi berarti menghendaki yang baik bagi sesama. Di dalam kasih tidak ada ketakutan, sebab kasih menyempurnakan hidup manusia. Kasih juga mengajarkan kita untuk bertahan dalam segala keadaan, percaya, berharap, dan sabar menanggung segala sesuatu (bdk. 1 Kor 13: 7). Kasih sejati bukan hanya diucapkan melalui kata-kata, melainkan diwujudkan dalam sikap dan tindakan nyata setiap hari.
Kasih itu tumbuh dari kerendahan hati, yaitu ketika kita mau menghargai sesama, menolong tanpa pamrih, memberi perhatian, mengampuni, dan menerima orang lain dengan tulus. Kasih sejati tidak mencari keuntungan diri sendiri, melainkan mencerminkan kasih Allah yang tanpa syarat.
Melalui kasih itulah dunia dapat mengenal, bahwa kita adalah murid-murid Kristus. Bukan dari banyaknya kata-kata rohani yang diucapkan, melainkan dari bagaimana kita memperlakukan sesama dengan penuh kasih dan ketulusan.
Marilah kita belajar mencintai seperti Yesus telah mencintai kita: rela berkorban, rendah hati, dan setia mengasihi, meskipun tidak selalu mudah. Dengan demikian, hidup kita sungguh menjadi tanda nyata kehadiran kasih Allah di tengah dunia.
Sr. M. Emma, P. Karm
Selasa, 15 September 2026
Ibr 5: 7-9 Mzm 31: 2-6.15-16.20; Yoh 19: 25-27 atau Luk 2: 33-35
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.