Kasih Setia

“Kasih tidak selalu menghilangkan dukacita. Kadang, kasih itu yang menguatkan kita untuk tetap berdiri di tengah dukacita.”

Allah yang Maha Rahim,
Kami mengenang Maria, Bunda yang Berdukacita. Ketika Malaikat Gabriel menyampaikan rencana-Mu, Maria berkata ‘ya’. Ia belum mengetahui seluruh harga dari jawaban itu. Simeon kemudian mengatakan, bahwa sebilah pedang akan menembus hatinya. Di kaki salib, nubuat itu menjadi kenyataan yang begitu menyakitkan.

Maria tidak pergi. Ia tetap berdiri dekat dengan Yesus. Ia tidak mampu menghentikan penderitaan-Nya. Ia tidak dapat menghentikan paku, luka, penghinaan, dan kematian-Nya. Tapi ia dapat tetap berada di sisi-Nya.

Kehadirannya yang diam adalah kasih, iman, dan kepercayaan.

Bapa, mungkin inilah yang Maria ajarkan kepada kami: tidak selalu harus mengerti apa yang sedang Engkau kerjakan. Kami dipanggil untuk tetap setia.

Santo Paulus mengingatkan kami, bahwa kami adalah satu Tubuh dalam Kristus. Bila satu anggota menderita, kami tidak seharusnya berpaling. Seperti Maria, kami dipanggil untuk mendampingi mereka yang sedang terluka, bahkan ketika kami tidak mempunyai jawaban atau jalan ke luar.

Dari atas salib, Yesus berkata kepada Yohanes: “Inilah Ibumu.”
Melalui Yohanes, Engkau memberikan Maria kepada kami sebagai seorang Ibu.

Maria, Bunda yang Berdukacita, engkau memahami rasanya melihat orang yang kita kasihi menderita. Dampingi kami, ketika hati kami tertusuk oleh kesedihan. Ajarlah kami tetap percaya kepada Bapa, seperti engkau percaya.

Ketika kami berjumpa dengan seseorang yang sedang memikul salib yang tidak terlihat, ajarlah kami untuk tidak menghakimi, tidak buru-buru memperbaiki, dan tidak pergi meninggalkannya. Ajarlah kami untuk tetap hadir. Semoga kehadiran kami yang setia menjadi sarana belas kasih-Mu.

Santa Maria yang Berdukacita, doakanlah kami. Amin.

HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)