Cinta Uang

“Mendewakan harta itu sumber mala petaka.” -Mas Redjo

Ibu muda itu termangu. Ia seperti diingatkan, ketika membaca status orang yang berisi kutipan Alkitab, bahwa “akar segala kejahatan itu adalah cinta uang” (1 Tim 6: 10).

Ia memejamkan mata, lalu menarik nafas panjang. Untuk kesekian kali pula ia gagal menghalau realita pahit getir itu. Sudah jatuh terlimpa tangga… duh!

Deratan masalah itu membuatnya terhenyak diam untuk berefleksi. Ketika seorang distributor kantor, C mengingatkannya untuk tidak asal mencari pelanggan dan mengobok-obok wilayahnya. Untuk “permisi dulu” dan mengutamakan etika bisnis. Tapi hal itu diabaikan dan dilanggar oleh bawahannya, meski tahu sumber barang pelanggan barunya itu dari C. Karena baginya, prioritas utama dan penting itu omzet naik, dan itu berarti bonus.

Merasa dibutuhkan, membuat ia bersikap tidak peduli dan cuwek. Ternyata ia keliru. C memutuskan hubungan bisnis. C lalu mengambil barang ke pabrik lain. Omzetnya langsung turun drastis, karena hal itu diikuti juga oleh teman-teman C yang solider padanya.

Berbeda dengan C adalah IB. Jika C memutuskan hubungan, IB bahkan nekat dan ngawur, yakni IB tidak mau membayar hutangnya sebelum masalah pelanggan di wilayahnya yang dipasok oleh kantornya itu diselesaikan baik dan dikembalikan pada IB. Terpaksa ia dan atasannya datang membereskan masalah itu daripada hutang IB yang besar tidak dibayar.

Masalah demi masalah itu seperti datang mendera tiada habisnya. Dari pelanggan lalu merembet ke keluarga: suami dan anak.

“Penghasilan saya memang kecil dibanding denganmu, tapi tolong menghargai saya,” kata suaminya, ED yang jengel menahan amarah, lalu ke luar rumah.

Semula ia berpikir adalah wajar, jika ia menyarankan agar suaminya di rumah itu mau mengageni produk perusahaan untuk menunjang usahanya, ketimbang menganggur.

Bukannya ia memahami keadaan suami yang syok terkena phk akibat krismon, melainkan memaksakan kehendak. Meski tujuannya baik, tapi penyampaiannya yang keliru. Sehingga merentangkan hubungan dengan suami. Apalagi, ketika ia memanjakan anaknya yang sd itu dengan membelikan sepeda listrik, lalu kecelakaan, dan diopname. Duh!

Penyesalan itu datang bagai deru gelombang samudra. Status cinta uang kutipan dari Alkitab itu telah menohok dadanya dan membuat jiwanya terjerembab, dan sakitnya tak terperikan.

Demi memburu materi, hidupnya telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka.

Demi muasi gengsi dan validasi, ia tidak ke Gereja lagi, karena hari Minggu pun untuk bekerja mencari order dan materi.

Ia memejamkan mata. Hatinya sakit dan nyeri sekali. Ia terisak. Air mata penyesalan pun bergulir…

“Gusti, nyuwun pangapunten.”
Mas Redjo