Refleksi tentang Air Mengalir:
Sifat Dasar Air

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Highest good is like water”
(Lao Tzu)
Sifat air mengalir telah mengajarkan umat manusia, bahwa ‘bagaimanakah cara, manusia itu hidup.’
- Sifat Dasar Air
a. Air itu selalu Mengalir ke Tempat yang Rendah
Pernahkah Anda menyaksikan, bahwa ada lidah air yang terjulur ke tempat yang lebih tinggi?
Tidak. Itu mustahil. Air selalu memandang ke arah bawah. Karena itu, ia mampu menghidupi semuanya: sawah dan ladang, samudra biru, dan juga sumur kita.
- Air itu Lembut, tapi mampu Menembus
Tahukah Anda, bahwa tetesan lembut air itu ternyata mampu melubangi batu karang padas? Hal ini dapat terjadi justru bukan karena kerasnya air memukul batu karang, melainkan karena betapa tekun dan setianya air menetesi batu karang padas.
- Menyesuaikan dengan Wadah: Bijaksana
Hum, betapa luwes, adaptif, dan rendah hati air ini.
Semisal, ketika ia memasuki sebuah gelas, maka jadilah ia sebagai sebuah gelas.
Ketika ia mencebur ke dalam genangan samudra biru, maka jadilah ia sebagai samudra.
Jadi, pada dasarnya air itu tidak pernah memaksakan dirinya. Tapi, ia justru tetap menjadi dirinya yang senantiasa jernih dan mampu menghidupkan.
- Air selalu Mencari Jalan: Pantang Menyerah
Ingatlah, bukankah kala air dibendung, atau dibelokkan, dan bahkan dikotori, ia tidak pernah melawan atau berteriak lantang.
Naluri alamnya sungguh luar biasa. Karena dia ternyata mampu untuk memutar arah, mencari celah, dan bahkan mengalir serta meliuk-liuk hingga kembali jadi jernih.
- Air itu Membersihkan dan Menyembuhkan: Pemurah
Inilah adagium tentang air, “Aku akan senantiasa memberi dengan tanpa pamrih.”
Ya, aku tak pernah bertanya, ‘layak atau tak layak? ‘Kotor ataukah bersih?’ Semuanya itu akan aku datangi!
Refleksikan!
“Barang siapa haus, datanglah kepada-Ku,” sabda Sang Air Hidup.
Jadilah laksana air mengalir, yang rendah hati, agar mampu menghidupi lebih banyak orang!
Kediri, 14 September 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.