Nyanyian Seorang Pengamen

Mosaik Serpihan Kelana -43
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores


Aku mengetuk pintu harkat sesamaku
dengan nada dan irama
Aku menyapa wajah telinga saudara
dengan alunan lagu dan syairku
Entah hadirku berarti bagi kebutuhan pribadimu
Entah tegur sapaku justru menjadi sampah bagimu
Apakah lagu dan syairku menarik untukmu
Mungkinkah nada dan iramamu layak bagi jiwa ragamu
Hanya kalian yang tahu pasti jawabanmu
karena aku datang tak diundang dan hadirku biasa dianggap sampah masyarakat

Sudah ke mana-mana nyanyianku berkelana
Kadang di pintu rumah atau pagar istana
Sering di emperan dan tempat jualan
Banyak kali di perhentian lampu lalu lintas
Di warung dan pasar juga aku mengamen
Dalam angkutan umum pun sering aku dendangkan laguku
Tak peduli reaksi semua yang mendengar
bahkan sering dicibir lalu diusir
Mungkin penampilanku tidak menarik
atau hadirku tak diharapkan seleramu
bahkan mungkin menjadi aib bagi martabatmu

Aku terpaksa mengamen demi angka dan kata uang
karena dia sakti melerai dahaga dan menjawab lapar
Aku alunkan lagu kehidupanku
bukan sebagai seniman profesional
tetapi hanya jeritan fakta anak manusia
Kadang menggunakan alat musik seadanya
Kadang sempat bersama teman bermodalkan alat rakitan sampah
Bahkan sering hanya tepukan tangan
dengan nada sumbang galau kepapaan
dengan irama resah lesu kemiskinan
dengan syair nasib tanya kebingungan

Aku pengamen sahaja dan miskin papa
berkelana menyanyikan nasib kehidupan
mengembara melagukan lara nestapa nasib
Mengapa begini hidupku dan untuk apa aku terlahir
Tak tahu ke mana menemukan jawaban
Tak mengerti kapan akan berubah nasib
Entah pada siapa harus mengadu dan mendapat jalan perubahan
Perjalanan ini memang galau letih lara merana
sering terasa menyedihkan dan tidak adil
Namun…
lagu nasib ini harus kunyanyikan
karena roda waktu menagih nafas
agar terus berdendang merajut nasib