Mengasihi Tulus sebagai Citra Allah

Ketidakmampuan seseorang untuk mengampuni kesalahan sesama itu menandakan hati yang penuh dengan kebencian. Hati yang demikian memang membuat kita sulit untuk mengampuni seseorang yang menyakiti kita. Putra Sirakh menyampaikan, bahwa dendam dan amarah itu sangat mengerikan, karena akan berakibat kejahatan, baik bagi diri sendiri maupun orang lain. Hati yang mendendam membuat kita tertutup dan tidak dapat menerima rahmat Allah. Hanya orang berdosa yang dikuasai oleh dendam dan amarah.
Dendam dan amarah itu buruk bagi diri sendiri dan sesama, sehingga Tuhan Yesus memerintahkan kita untuk saling mengampuni. Dalam Injil, Yesus menyampaikan, bahwa oleh belas kasihan, Raja itu membebaskan hamba yang berutang banyak kepadanya. Hal ini menggambarkan, belas kasihan Allah merupakan dasar pengampunan. Allah telah berbelas kasih kepada kita. Hendaknya kita berbelas kasih kepada sesama. Sebagaimana Allah tiada hentinya berbelas kasih kepada kita, demikian puls kita berbelas kasih kepada sesama tanpa batas.
Mengampuni tanpa batas itu merupakan model pengampunan yang dikehendaki Yesus. Dia sendiri telah menunjukkan model pengampunan yang amat mulia melalui pengorbanan-Nya di kayu salib. Hendaknya kita terus belajar dari Tuhan Yesus: mengampuni tanpa batas secara tulus. Dengan cara itu, kita menunjukkan citra Allah yang lemah lembut, penuh belas kasih, dan maha pengampun. Kita yakin, Yesus memberikan perintah untuk saling mengampuni, itu bukanlah perintah yang mustahil untuk dilaksanakan.
Apakah kita selalu belajar mengampuni dari Tuhan Yesus? Apakah kita selalu terbuka untuk memaafkan dan mengampuni orang lain?
“Ya, Tuhan Yesus, tolonglah kami agar mampu menerima rahmat-Mu sehingga kami dapat memaafkan sesama yang bersalah kepada kami. Amin.”
Ziarah Batin
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.