Allah yang Meraja

“Sepahit apa pun realitanya, jangan kehilangan harapan dan putus asa. Karena Allah selalu memberi kita yang terbaik.” -Mas Redjo
Untuk yang kesekian kali pula saya diam merefleksikan peristiwa itu dengan tenang dan berpikir jernih untuk mengambil hikmat-Nya.
Bersyukur, untuk selalu bersyukur, karena saya memprioritaskan Allah di atas segalanya. Seberat dan sepahit apa pun peristiwa hidup ini adalah karunia kasih-Nya yang harus disyukuri dan dijalani sebagai persembahan kepada-Nya.
Dengan memprioritaskan Allah yang pertama dan utama, saya tidak komplain, menyalahkan orang lain, mengeluh, dan menyesali peristiwa pahit itu.
Dengan merefleksikan peristiwa itu, saya melihat hikmat Allah. Ibarat periuk tanah di tangan sang ahli, iman saya dibentuk-Nya agar makin dewasa dan rendah hati.
Begitu pula, ketika saya mendengar kabar dari kantor pusat yang mengusik telinga ini. Perusahaan (PMA) tempat saya bekerja akan hengkang, alias tutup. Faktor penyebabnya, di antaranya krisis ekonomi dunia dan tiada kepastian hukum. Membayang di pelupuk mata ini: phk masal. Duh!
Sedih, bukan karena kehilangan pekerjaan. Melainkan perusahaan mengalihkan asetnya ke Vietnam, dan saya diajak serta pindah. Hal ini yang membuat hati saya risau. Mungkinkah istri mau meninggalkan pekerjaannya, dan bagaimana dengan sekolah anak-anak…?!
Mencari pekerjaan di masa krisis itu tidak mudah, meski berprestasi di pemasaran. Karena beberapa relasi bisnis yang saya hubungi itu tidak bisa membantu. Usaha mereka juga goyang. Lalu…?
Saya membicarakan hal itu dengan istri akan jenjang karir di luar negeri dan kesempatan pendidikan anak yang lebih baik. Kesempatan itu harus dimanfaatkan, meski untuk sementara waktu hidup berjauhan dengan keluarga.
Selalu melibatkan penyertaan Allah agar pikiran dan hati saya dipimpin-Nya. Allah yang meraja dalam hidup kami senantiasa memberi yang terbaik.
Gusti nyuwun pitulungan,
Mas Redjo
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.