Tiada Mawar tak Berduri

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK

“Cinta romantis itu bukan tanpa duri. Tapi justru tetap mau pegang, walau tahu akan tertusuk. Juga tetap mau merawat, walau tahu kelopaknya itu bakal rontok.”
(Misteri Cinta Sejati)

  1. Mawar itu Identik dengan Keindahan Hidup

Mawar itu adalah simbol ‘gairah cinta, rasa syukur, serta momen-momen terindah.’ (Bukankah semua orang selalu ingin memiliki mawar, karena ingin hidupnya jadi lebih indah?)

  1. Duri itu adalah Bagian yang tak bisa Dipisahkan

‘Duri’ itu bukanlah sebagai sebuah kesalahan dari setangkai mawar? Melainkan duri itu sebagai bagian dari keutuhan setangkai mawar. (Ketahuilah, justru durilah penjaga paling setia bagi setangkai mawar agar dia tidak diinjak-injak orang).

Mari Refleksikan!
Demikian pula Hidup Manusia:

  • Wajib ada denyut rasa cinta, walaupun memiliki sejuta risiko akan dikhianati dan juga patah hati.
  • Wajib ada sebetik nada harapan, walaupun memiliki sejuta risiko akan dikecewakan.
  • Wajib memiliki pertumbuhan, walaupun memiliki risiko ada proses yang sangat menyakitkan.

(Jika Anda hanya mau mawar yang tanpa duri, maka yakinlah Anda tidak akan sungguh-sungguh mau memeluknya)

  1. Lalu Bagaimana Anda Memegang Mawar?

Ya, gunakan ujung jemari cintamu dan bukan dengan cara mengamuk, karena memang mawar itu pasti ada durinya!

Caranya, ‘sentuh dan peganglah perlahan, bangkitkan gairah sadarnya, tersenyumlah lembut, dan tatapilah bola-bola matanya, lalu terpejamlah … Dari sana akan lahirlah cinta!

Ingatlah selalu pada adagium paling agung bahwa “Amor gignit amorem” (Cinta akan melahirkan cinta lagi). Lewat cara yang paling romantis dan manusiawi ini, tentu Anda sudah mengurangi rasa sakit. Yakinlah pula, bahwa wanginya akan lebih semerbak daripada rasa sakit.

Ketahuilah, bukankah setiap saat, kala Anda bersama sesama, Anda sedang berada di antara duri-duri tajam?

  1. Di Manakah Letak Misterinya?

Ya, ‘Pernahkah Tuhan berjanji, bahwa hidupmu kelak akan tanpa duri?’ Tuhan bahkan rela untuk bersama Anda kala ditikam duri-duri kehidupan, bukan?

Dalam Konteks ini, Duri telah Mengajari Anda dalam 3 Hal:

  • Bersikaplah rendah hati, karena Anda tidak perlu untuk menggenggam seluruhnya.
  • Bersyukurlah, karena wangi mawar itu akan lebih mahal, justru ada durinya.
  • Bertumbuhlah, karena bukankah lewat ‘luka dan duri’ kepada Anda pun diajarkan, cara memegang mawar dengan lebih bijak?

Konklusi

  • Janganlah Anda mencampakkan setangkai mawar, karena ia berduri.
  • Janganlah mengutuk duri-durinya, karena Anda hanya menyukai aroma wanginya.

Tapi, ya, peluklah kedua-duanya, karena itulah sebuah cara hidup yang paling sempurna dan utuh!

Kediri, 11 September 2026