Melihat Diri Sendiri sebelum Menasihati

“Sebelum menilai serpihan di matamu, biarkan Yesus menunjukkan balok di mataku.”

Allah yang Maha Rahim,
Putra-Mu mengajukan sebuah pertanyaan yang terus terang: “Dapatkah orang buta menuntun orang buta?” Sebelum aku mencoba menuntun orang lain, ya, Tuhan, bantulah aku terlebih dahulu untuk dapat melihat dengan jelas.

Santo Paulus memahami hal ini. Ia melatih dan mendisiplinkan dirinya seperti seorang atlet, bukan untuk mendapatkan keselamatan dengan usahanya sendiri, melainkan ia telah lebih dahulu disentuh oleh rahmat-Mu. Hidupnya menjadi jawaban atas rahmat itu: berlari dengan tekun dan menjadi “segala-galanya bagi semua orang” agar semakin banyak orang dapat mengenal Kristus.

Yesus mengingatkan, bahwa hambatan terbesar mungkin bukan kebutaan orang lain, melainkan balok kayu di mata kami sendiri.
Betapa mudahnya aku melihat serpihan kecil di mata orang lain, sementara mengabaikan kesombongan, ketidaksabaran, penghakiman, ketidakmampuan mengampuni, keegoisan, atau kurangnya kasih dalam diriku sendiri.

Bapa, aku sering menolak koreksi, karena dalam hati aku merasa melihat dengan benar. Tapi Putra-Mu, Sang Tukang Kayu Ilahi, tahu persis apa yang perlu disingkirkan.

Berilah aku kerendahan hati untuk membiarkan-Mu menunjukkan balok dalam diriku, keberanian untuk membiarkan-Mu menyingkirkannya, dan ketekunan untuk terus berlari menuju-Mu.

Dengan mata yang semakin jernih dan hati yang dipenuhi belas kasih, semoga aku dapat membantu orang lain menemukan jalan kepada-Mu.

Demi sengsara Yesus yang pedih, kasihanilah kami dan seluruh dunia. Amin.

HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)