Belas Kasih

Sebagai makhluk sosial, setiap orang membutuhkan sikap saling menerima dan menghargai, memandang status apa pun. Maka, kecenderungan untuk menjadi hakim yang hanya menilai sisi buruk orang lain, tanpa mengintrospeksi diri, sebenarnya berlawanan dengan identitas kita sebagai makhluk sosial, dan itu merupakan suatu sikap yang kurang elok sebagai anak-anak Allah. Perlu ada kesadaran, bahwa sesama itu adalah citra Allah. Sehingga sudah sepatutnya kita merangkul dan mencintai mereka sama seperti yang dilakukan oleh Allah melalui Yesus Putra-Nya.

Dalam Injil, Yesus memberikan beberapa pesan bagi kita, yakni tidak boleh menghakimi orang lain, karena kita semua berdosa dan membutuhkan pengampunan.

Sebelum kita mengkritik orang lain, kita perlu terlebih dahulu memeriksa diri sendiri dan selalu menunjukkan sikap belas kasihan kepada orang lain, seperti halnya Tuhan menunjukkan belas kasihan kepada kita.

Rasul Paulus menegaskan lagi ajaran Yesus dalam suratnya kepada jemaat di Korintus. Ia mengajak jemaat agar selalu memerhatikan orang-orang lemah dan menyelamatkan mereka.

Marilah kita menanamkan sikap rendah hati dan menunjukkan kasih kepada semua orang. Sebab kualitas hidup beriman kita tidak diukur dari seberapa sering kita menyebut nama Tuhan Allah dan menjadi hakim untuk yang lain, tapi seberapa besar kesetiaan kita untuk merangkul sesama yang dicintai-Nya.

“Allah yang Maha Baik, mampukanlah kami membalas kebaikan-Mu dengan melayani sesama, terutama mereka yang menderita dan tidak berdaya. Amin.”

Ziarah Batin