Mengurai Taqwa dan Tanyaku
Mosaik Serpihan Kelana -40
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores

Guncangan gempa itu belum usai
telapak kaki gemetar di bawah tenda darurat
Jiwa raga getir sadari ketakberdayaan
Pikiran mengembara di antara serpihan keterbatasan
Lapar dan harus menadah harap pertolongan
Teringat mantra sabda yang diwariskan
“Aku-lah air hidup
Jika kamu minum air yang Aku berikan,
kamu tidak akan haus lagi
Aku-lah roti hidup, jika makan roti ini, kamu tidak akan lapar lagi”
Dalam himpitan getir galau bencana
aku bertanya menggugat diri
“Benarkah makna janji mantra Air dan Roti Hidup itu
Apakah aku belum bertindak untuk makan dan minum-Nya?”
Awal September kembali menggetarkan
parade tujuh gunung berapi beraksi di tanah air ini
Langit dicat pijar api dan debu panas
Wajah bumi dilukis lahar api dan hitamnya misteri
Jiwa raga manusia digugat alam semesta
“apakah manusia sungguh penguasa jagat raya atau hanya penumpang kecil tak berdaya di semesta ini”
Di pojok kerapuhan dan tepi kehampaan
kembali teringat mantra sabda berikut
“Aku-lah jalan, kebenaran dan kehidupan
Datanglah pada-Ku
kalian semua yang letih lesu berbeban berat
Aku pasti memberikan kelegaan”
Maka kembali sanubari jiwa tergelitik
‘Di manakah jalan-Nya untuk aku lalui
Seperti apakah kebenaran-Nya dan Kehidupan yang dijanjikan-Nya
Mengapa galau resah bencana ini tidak segera ditolong-Nya
Ataukah ini peringatan dan bukti kuasa-Nya?”
Di tengah bencana alam yang bergelora
Banyak jiwa raga resah galau gelisah
sedangkan di sosial media berhamburan gambar erupsi dan ragam komentar
Ada yang solider terhadap korban
dengan doa dan uluran bantuannya
Ada yang justru menggugat keadilan Sang Ilahi
Yang lain justru menggunakan kesempatan bencana untuk menilai iman para korban
Sedangkan ada oknum yang memanfaatkan bencana sebagai pembawa berkah ekonomi dan politik
Sandiwara kepentingan dan topeng keputusan berkelahi di atas panggung kehidupan
Tapi tak ada yang mampu berbohong pada desah nafas dan desir darahnya
Bencana alam yang dasyat menghardik kehebatan nalar manusia
Hukum alam yang penuh misteri menghentak konstruksi iman dan taqwa insani
Segala kesombongan dan kepongahan manusia digugat
apakah masih jujur pada diri dengan pikiran sehat waras
Alam jagat semesta mencubit setiap pribadi dengan energi hukumnya
seperti apa kata beriman dalam amal hidup sehari-hari
Masihkah ada iman di antara pikiran, hati nurani, jiwa dan selera raga
Tak ada yang mampu berlari dari siang dan malam
Tuhan ada di dalam setiap jiwa raga dan seluruh jagat semesta ciptaan-Nya
Tak mungkin kita bersembunyi dari matahari, debu tanah dan udara
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.