Pengampunan yang Menuntun Kepada Kasih Kristus

“Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu” (Luk 6: 27b).
Dalam perjalanan menuju kasih yang sempurna, Kristus menghendaki agar pengampunan hadir dalam setiap relasi kita, baik dengan orang-orang yang kita kasihi, mereka yang tidak disukai, maupun kepada musuh. Sebelum kasih itu tumbuh dengan utuh, pengampunan harus lebih dahulu dipeluk dengan kesungguhan hati.
Pengampunan sejati itu bukan sesuatu yang instan, melainkan sebuah proses belajar yang terus berlangsung. Proses ini dimulai dari diri sendiri, meluas kepada orang-orang terdekat yang mungkin pernah melukai hati kita, lalu kepada mereka yang sulit diterima atau tidak kita setujui. Mengasihi musuh dan melakukan kebaikan kepada orang-orang yang menyakiti kita hanya mungkin terjadi, apabila kita terlebih dahulu mengalami kasih Yesus secara pribadi, sebagaimana Ia berdoa, “Bapa, ampunilah mereka, sebab mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat” (Luk 23: 34).
Sikap mau berdialog dan kerelaan untuk memulihkan hubungan secara perlahan akan menyingkirkan keinginan untuk membalas dendam di dalam hati. Ketika kita dengan tulus berbuat baik kepada ‘musuh’, kebaikan itu perlahan akan mengikis kebencian, hingga akhirnya kasih Kristus memulihkan seluruh luka di dalam diri kita.
Sr. M. Hanna, P. Karm
Kamis, 10 September 2026
1 Kor 8: 1-7.11-13 Mzm 139: 1-3.13-14.23-24; Luk 6: 27-38
Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.