Mengampuni:
Bukan Kompromi, melainkan Pelepasan

“Kerelaan dan keberanian untuk mengampuni bukan karena si pengampun adalah pribadi yang lemah atau berada di bawah tekanan, melainkan pengampunan adalah atribut dan karakter orang kuat kepribadian. Dengan kata lain, pengampunan itu bukan tindakan kompromi terhadap kesalahan dan orang yang salah atau penjahat, melainkan tindakan pelepasan hati dan pikiran dari keinginan untuk balas dendam.”

Dalam Injil, Yesus memberikan banyak nasihat agar kita berani mengasihi musuh, berbuat baik kepada orang yang menganiaya, jangan menghakimi dan menghukum, serta harus rela mengampuni sesama yang bersalah. Intinya kejahatan itu harus dibalas dengan kebaikan, kebencian dengan cinta, dan permusuhan dengan damai.

Sebagai pengikut Yesus kita disadarkan, bahwa:

    1. Hanya cinta dan pengampunan itu yang dapat menyelesaikan setiap persoalan kejahatan di antara manusia;
    1. Hanya orang beriman dan yang memiliki kerendahan hatilah yang dapat mencintai tanpa pamrih dan mengampuni dengan tulus;
    1. Tindakan mencintai dan mengampuni sesama itu wajib kita lakukan, karena sesungguhnya Allah lebih dulu mencintai dan mengampuni kita tanpa syarat dan batas.

Akhirnya, ketika Anda rela mencintai tanpa syarat dan mengampuni dengan tulus, maka engkau mampu membuat Allah Bapa tersenyum bahagia terhadapmu.

Monsignor Inno Ngutra, Pr