Oleh: Mas Redjo
Red-Joss.com | Ketika terbangun, sekeliling saya gelap gulita. Ada di mana saya?
Padahal, seingat saya, seusai maksi bersama istri, saya membaca buku di teras rumah. Hujan gerimis yang sejak pagi dan angin sepoi yang atis membuat saya terlelap.
Faktanya, ketika terbangun, saya berada di tempat asing yang tidak saya kenali.
Saya membuka mata, mengucek-uceknya agar saya memperoleh kesadaran penuh.
Astaga! Kedua tangan saya diikat. Kendati mata terbuka lebar, tapi saya tidak mampu melihat. Gelap yang teramat mencekam membuat saya sulit untuk bernafas.
Saya tercekat, dan tanpa sadar berteriakโฆ, tapi mulut saya seperti terkunci. Sehingga tidak ada suara yang ke luar dari mulut.
Seketika itu keringat dingin membanjiri tubuh saya. Saya merasakan keanehan yang sangat mencekam dan menakutkan. Saya seperti dilemparkan ke lorong kegelapan. Lalu di mana istri saya? Apakah ia mengalami hal yang sama seperti saya?
Berjuta jarum ketakutan menusuk-nusuk sekujur tubuh saya, dan sakitnya sungguh tak terperikan.
Saya menghela nafas panjang, dan mencoba bersikap tenang. Sebutir kesadaran menggelundung ke dasar hati.
โApa karena saya menyuarakan kebaikan, saya lalu dikeluarkan dari anggota grup?โ
Tiba-tiba pertanyaan itu melesat dari hatiku, lalu menggetarkan seluruh persendian tubuh, dan rasa nyeri itu hingga ke tulang sunsum.
Bisa jadi. Karena sejak saya menulis dan membagikan hal-hal baik dan tentang ketuhanan, banyak teman memusuhi, mencap saya munafik, sok baik, sok suci, dan sok moralis!
Tanpa dikomando, dan anehnya terjadi secara serentak, tiba-tiba saya dikeluarkan oleh admin di seluruh grup WA, bahkan akun saya di FB juga diblokir. Seluruh admin grup WA itu seperti kong kalingkong, dan memusuhiku. Saya dianggap ektremis yang menakutkan pertemanan. Atauโฆ?
Sekali lagi saya mencoba berteriak, dan anehnya tanpa ke luar suara. Saya meraba mulut dengan kedua tangan yang terikat. Mulut dan mata saya tidak diplester maupun dijahit. Lalu, kenapa saya tidak bisa melihat dan bersuara? Ke mana istri saya pergi? Ada di mana saya kini?
Saya mencoba duduk, tapi tubuh ini terasa lemah, seluruh persendian saya seperti dilolosi, tanpa tenaga, dan tanpa daya.
Sejak saya dikeluarkan dari grup WA dan dijauhi dalam pergaulan, saya tetap konsisten untuk berbagi hal baik dan tentang ketuhanan, meskipun tak seorang pun menanggapi atau meresponnya.
Kini, ketika mulutku tidak mampu untuk bicara dan tanganku terikat, hal itu tidak mengurangi hasratku untuk tetap vokal menyuarakan hati nurani.
Tekadku bulat dan semangatku membaja. Kendati kebaikan itu dibungkam, dipenjarakan, dan saya diasingkan. Mereka tidak bisa memasung pikiran dan hatiku. Saya selalu berdoa, agar mereka yang memusuhi dan membenci kebaikan itu dijamah Allah, sehingga sadar diri.
Semoga!
…

