Untuk Kita Renungkan

Mosaik Serpihan Kelana -39
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores


Samudra bergemuruh mengasinkan sanubari
Rakyat miskin jelata menebarkan jeritan
di hadapan lahar badai erupsi
Para korban ketidakadilan terus merangkai syair nasib
mengikut irama guncangan gempa
Ombak gelombang terus menghempas pantai jiwa raga setiap saat

Sedangkan masyarakat lemah tak berdosa
mencampur air mata lara dengan terjangan banjir lumpur
Para pemulung di jalanan dan pelataran gedung pemerintah
memungut kejujuran dan kebenaran yang terbuang seperti sampah plastik dan bungkus nasi yang terkapar merana
Doa para pengemis sahaja bergema siang dan malam

Aneka demonstrasi buruh, mahasiswa dan rakyat korban korupsi serta kebijakan politik yang bajingan
Hanya pulang membawa janji kosong dan dongeng politik
Lantaran kalah modal dan strategi dengan pejabat koruptor, politisi busuk dan pemodal rakus tamak
Gemerlap pesta pora seakan rayakan kemenangan abadi
Yang salah dibenarkan, yang benar disalahkan

Negeri yang kaya raya alamnya ini
sedang dikuras dan terus dirampok isinya
oleh segelintir manusia tak waras dan buta jiwa sanubari
Negara yang diproklamirkan dengan korban nyawa dan harta
justru dikhianati oleh anak bangsa sendiri
yang rela berkomplot dengan para pemodal asing
hanya demi kenikmatan pribadi dan kelompoknya
Kemerdekaan sepertinya hanya pepesan kosong

Ketika alam bangkit menghentak jiwa raga
aneka jiwa leluhur hadir menggugat kesadaran nurani
Saatnya segala topeng kejahatan dan sandiwara kerakusan diadili
Entah ada yang paham dan berani bertobat
Entah ada yang berfikir waras dan berbenah diri
Hidup tetap sebuah pilihan pribadi menjadi apa dan siapa

Biasanya terjadi penyesalan akan datang kemudian
Tetapi hukum alam dan keadilan Ilahi tak dapat disogok
oleh jabatan kuasa, harta benda dan senjata
Kerakusan dan kesombongan tetap ada batas
lantaran tak ada yang bisa membatalkan ajal
apalagi membeli umur dan menghapus karma