Abu Vulkanik

“Kotor dan sisa bukan tak berguna, kadang membawa manfaat luar biasa.” -Rio, Scj
Abu vulkanik erupsi Gunung Anak Krakatau membanjiri wilayah Lampung sejak 5 September kemarin. Di mana-mana abu vulkanik, bukan saja di jalan, lantai, teras, lahan pertanian, dahan dan pohon, tapi abu vulkanik juga hadir dalam pembicaraan dan obrolan. Semua karena abu. Kecil, mudah tersapu angin, menjangkau bahkan yang paling tersembunyi sekalipun.
Abu vulkanik memang kecil, menimbulkan bencana, dan mengganggu kenyamanan. Meski begitu lembutnya partikel abu vulkanik itu tersimpan daya yang menyuburkan alam, menyeimbangkan kehidupan. Bumi saja bisa merawat dirinya, sementara kita tak henti-hentinya mengeluh pada kehadirannya. Kita yang dicipta dari debu tanah harusnya merawat bumi dan seisinya, tapi nyatanya cenderung merusaknya.
Bumi sedang merawat diri, bukan tak peduli dengan kesehatan kita, tapi inilah cara alam berbicara. Tak banyak kata, tak perlu dimengerti dengan logika. Hanya dengan menerima dan beradaptasi semua akan baik-baik saja. Yakinlah di balik bencana itu Tuhan mempunyai rencana. Di balik hujan abu vulkanik yang membuat nafas dan mata terganggu, Tuhan sedang merawat bumi ciptaannya. Di balik yang kotor ada kesuburan dan daya kehidupan tersedia. Tergantung bagaimana kita menerima dan beradaptasi dengan realita abu vulkanik ini.
Deo gratias.
Rm RP Rio, Scj
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.