Gara-gara Hari Sabat

Dalam teori psikologi komunikasi ada dua istilah yang berlawanan, yaitu sentripetal dan sentrifugal. Jika suatu hal yang dipakai atau dibicarakan menjauhkan seorang dengan sesamanya, baik secara fisik maupun dalam pemahaman dan pemikiran, hal itu dinamakan sentrifugal. Sedangkan instrumen yang dipakai atau hal yang dibicarakan itu menarik orang-orang untuk berkumpul dan menciptakan kebersamaan, hal itu namakan sentripetal.

Cara pandang seperti ini dapat dipakai juga dalam memahami dan menghayati hari Sabat, yang menjadi salah satu sumber konflik dalam karya Yesus Kristus di tengah bangsa Israel. Terhadap konsep dan penghayatan hari Sabat, bagi kaum Farisi dan para ahli Taurat merupakan sentripetal. Mereka sangat kompak, kalau hari Sabat dipandang sebagai sebuah aturan yang sudah baku dan harus diikuti secara ketat. Sebaliknya, ketika konsep dan penghayatan mereka tentang hari Sabat dihadapkan dengan Yesus Kristus, kenyataannya menjadi sentrifugal.

Yesus tidak mungkin bersatu dengan mereka dalam hal ini. Secara rohani mereka jauh satu sama lain, demikian juga secara jasmani terjadi suatu konflik sangat tajam dan akhirnya memuncak pada hukuman mati kepada Yesus.

Gara-gara hari Sabat, garis pembatas itu telah dibuat untuk memisahkan antara kaum lawan dengan institusi agamanya di satu pihak, Yesus Kristus dengan misi pendirian Kerajaan Allah di bumi di pihak lainnya. Gara-gara hari Sabat itu, kita yang terpilih untuk berada dalam naungan Kerajaan-Nya, mendasarkan hidup iman kita bukan di atas hukum manusia dan adat istiadat warisan orang-orang yang tidak taat kepada Allah, melainkan di atas jalan Tuhan Yesus Kristus, yaitu cinta kasih.

Hukum hari Sabat memiliki motivasi yang sangat duniawi, karena ada mafia dan persekongkolan orang-orang yang ingin memolitisasi agama, supaya mendapatkan keuntungan dari para penganutnya.

Para pengikut Kristus memiliki kesetiaan kepada Tuhan bukan berdasarkan hari-hari dan saat beribadat. Mereka menunjukkan kesetiaan dan komitmen imannya dengan menjadi pribadi-pribadi yang semakin mantap dalam mengasihi Tuhan dan sesamanya dengan segenap hatinya.

Jika pengikut Kristus mengasihi Tuhan dengan segenap hati, maka peribadatanya menjadi bagian dari cinta kasihnya. Dengan mengasihi sesama segenap hati, berarti setiap tindakan kasih merupakan sebuah ibadat yang konkret dan hidup. Ia hidup sebagai manusia baru, yang tidak dibelenggu oleh ragi yang lama, tapi ragi kemurnian dan kebenaran.

“Ya, Allah, semoga dengan bantuan firman-Mu, kami semakin setia kepada-Mu, khususnya dalam semangat pembaruan diri terus-menerus menuju kesempurnaan. Amin.”

(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)