Samudra Bahagia

“Ibarat perahu peziarah, pribadi yang sadar diri itu hidupnya untuk mengarungi samudra bahagia.” -Mas Redjo

Apakah kita sungguh bahagia?

Ya! Adalah jawaban tegas saya. Bukan karena hidup saya mapan dan anak-anak mandiri, melainkan karena saya membiasakan untuk menyederhanakan pola pikir ini dari kelekatan dunia. Saya belajar untuk melepas semua itu dengan ikhlas hati tanpa merasa kehilangan.

Saya menyederhanakan pola pikir, karena tidak mau dibebani cinta diri, gengsi, dan hal keduniawian. Saya belajar merespon perlakuan buruk orang lain secara positif agar tidak korslet, tapi agar saya sabar, memahami, dan rendah hati.

Di rumah saya mencoba-terapkan untuk tidak berkonflik dengan anggota keluarga, karena saya menyayangi mereka. Berkonflik itu melukai, menjauhkan, dan bahkan memisahkan kami. Tapi mengalah, memaafkan, dan mengasihi itu menyatukan serta membahagiakan kami.

Selalu mengedepankan kasih, saya membiasakan diri bertukar pikiran dengan anak untuk mencari solusi dari suatu masalah dan demi kebaikan bersama. Sehingga hubungan kami, antara orangtua dan anak-anak pun makin dekat dan akrab; bagai kakak dan adik.

Semula impian saya dan istri ingin ‘traveling’, setelah anak-anak ‘mentas’. Ternyata kebiasaan pergi bersama keluarga itu yang membuat impian saya dan istri meluruh. Bahagia berdua itu serasa tidak komplet tanpa dengan anak-anak, meskipun mereka mendorong kami berdua untuk menikmatinya di hari tua.

Selalu membiasakan hidup prihatin itu pula yang membuat kami tidak ‘neka-neka’, bahkan sebaliknya menyadarkan kami. Sejatinya hidup bahagia itu milik pribadi yang sadar diri. Hidup untuk diisi dengan hal-hal yang positif agar semua ditambahkan Tuhan.

Bahagia, kami berbahagia itu bukan karena memiliki kemewahan dunia, melainkan karena kami memiliki hati untuk mengasihi keluarga dan sesama.

Mas Redjo