Memilih untuk Mengasihi

“Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membinasakannya?” (Luk 6: 9b).

Yesus mengingatkan, bahwa inti hukum Tuhan adalah kasih. Pada masa itu, banyak orang lebih sibuk mempersoalkan aturan daripada peduli kepada orang yang sedang menderita. Karena itulah Yesus bertanya: manakah yang lebih baik berdiam diri atau melakukan kebaikan?

Dalam kehidupan sehari-hari, kita pun sering menghadapi hal yang sama. Terkadang kita mengetahui ada orang yang membutuhkan perhatian, dukungan, atau pertolongan, tapi kita memilih diam, karena takut repot, salah, atau terlalu sibuk dengan urusan sendiri. Padahal, setiap kesempatan untuk berbuat baik adalah kesempatan menghadirkan kasih Tuhan bagi sesama.

Tuhan tidak hanya menghendaki kita menjadi pribadi yang tekun dalam doa dan ibadah, tapi juga memiliki hati yang peka terhadap kebutuhan orang lain. Iman yang hidup tampak melalui keberanian untuk mengasihi, menolong, dan membawa kebaikan bagi sesama. Iman sejati itu harus diwujudkan dalam tindakan kasih dan perbuatan nyata, bukan hanya melalui kata-kata atau pengakuan lisan semata (bdk. Yak. 2: 26). Karena itu, jangan menunda untuk berbuat baik. Melalui tindakan kasih yang sederhana, Tuhan dapat bekerja menjamah dan menguatkan banyak hati.

Fr. Bonaventura de Cordis Iesu, CSE

Senin, 07 September 2026
1 Kor 5: 1-8 Mzm 5: 5-7.12 Luk 6: 6-11

Sumber:
Buku renungan harian “Sabda Kehidupan”
https://www.renunganpkarmcse.com