Rekonsiliasi Kasih

“Kita bukan sekadar menerima kerahiman Allah. Melainkan kita dipanggil untuk menghidupinya.”
Allah yang Maha Rahim,
Sabda-Mu mengingatkanku, bahwa kerahiman bukan hanya sesuatu yang kuterima dari-Mu. Kerahiman adalah sesuatu yang Engkau percayakan untuk aku jalani dan bagikan.
Dalam Injil, Yesus mengajariku yang harus aku lakukan, ketika seorang saudara bersalah kepadaku: datang kepadanya, berbicara dari hati ke hati, dan berusaha mendapatkannya kembali. Bukan untuk menghakimi, membuktikan bahwa aku benar, dan untuk menghukum. Melainkan untuk memulihkan kasih itu.
Engkau mengangkat Yehezkiel menjadi penjaga bagi umat-Mu. Kadang kasih menuntut keberanian untuk berbicara. Tapi Pemazmur terlebih dahulu mengingatkanku: “Jangan keraskan hatimu.” Sebelum menegur orang lain, tapi lembutkan hatiku. Sebelum berbicara tentang kesalahan orang lain, tunjukkanlah dahulu kekuranganku sendiri. Biarlah kebenaran yang aku sampaikan selalu lahir dari kasih.
Santo Paulus mengingatkan, bahwa kami tidak berutang apa pun kepada siapa pun, kecuali kasih.
Mungkin inilah panggilanku untuk menjalani kerahiman-Mu: berbicara ketika kasih memintaku berbicara; mengampuni, ketika aku terluka; berdoa, ketika aku tidak mampu mengubah orang lain, dan tetap mengusahakan rekonsiliasi kasih.
Bapa, tunjukkan kepadaku: di mana Engkau memintaku menjadi perpanjangan tangan Kerahiman-Mu?
Jangan biarkan aku hanya berkata, “Yesus, aku percaya kepada-Mu.”
Ajarlah aku menjalani kepercayaan itu.
Yesus, Engkaulah Andalanku. Amin.
HD
(Bapak Herman Dominic dari Paroki Annunciation Church, Arcadia, di Keuskupan Agung Los Angeles, IC-ADLA)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.