Anomali Manusia dan Misteri Semesta
Mosaik Serpihan Kelana -37
Pemburu Jejak Angin
Simply da Flores

Pernahkah udara meminta bayaran pada alat pernafasan
yang berdesah saat disadari atau lelap tertidur
Tetapi…
ketika tabung udara diperlukan untuk pasien di rumah sakit
ternyata udara itu ada harganya
Dan
banyak pasien sederhana miskin tak mampu membayarnya
lalu terpaksa menghembuskan nafas terakhir dan mati
Kepada keluarga yang bersedih di hadapan jenazah
Petugas medis berkata lirih untuk mencuci tangan tanggung jawab
“Kami sudah berusaha semampu kami,
tetapi Sang Maha Kuasa berkehendak lain”
Lalu, jenazah sang miskin tak bisa dibawa pulang
jika bayaran administrasi rumah sakit belum dilunasi
Udara mencatat semua kejadian tanpa manipulasi data
atas sandiwara dan perilaku kita setiap pribadi
Hidup kita manusia pasti berlangsung di tanah bumi ini
Tak ada seorang pun terlahir membawa sejengkal tanah
Tanah bumi ini anugerah Sang Ilahi
Dikuasai dan diwariskan oleh para leluhur nenek moyang
dan dipinjamkan oleh anak cucu penerus generasi
Zaman mengubah relasi menjadi jual beli dan dikuasai
Ada lembaga yang bisa mengakui miliknya dan bisa membagi-bagi sesuai kepentingannya
Sering para pewaris yang miskin lemah bersahaja
digusur dan diusir atas nama aturan negara dan program pembangunan bangsa
lalu diserahkan kepada para pebisnis dan pemodal kaya
bahkan dilindungi oleh yang mempunyai senjata
Adakah yang punya jabatan dan harta tidak mati
Mungkinkah jasad penguasa tidak kembali ke tanah
Bisakah yang kaya raya hidup abadi tak membutuhkan alam semesta?
Ketika bencana alam datang melanda
banyak jeritan terlontar tak sengaja
Nama Ibu yang biasa terlupa saat senang bahagia
malahan jadi ungkapan harapan saat susah
Nama Tuhan yang sering diejek saat sukses berbangga
justru dipanggil dan dimohonkan pertolongan
Kuasa dan jabatan yang dibanggakan
sering tak berdaya di hadapan gempa, erupsi dan banjir melanda
Harta benda yang bertumpuk diistimewakan
justru tak mampu membeli umur dan desah nafas di hadapan ajal
Pertanyaan sering menggugat pribadi di puncak kecongkakan
Penyesalan selalu datang kemudian setelah tertimpa mara bahaya
saat sakit tak berdaya dan hilang kuasa serta harta benda
Sinar mentari dan cahaya bulan bintang
tak pernah membedakan kaya miskin dan baik jahatnya pribadi manusia
Udara tersedia oleh semesta untuk desah nafas setiap insan
tidak pernah membedakan tingkat sosial ekonomi dan pendidikan
Sedangkan panggung sandiwara dunia berbeda hukumnya
dengan andalkan jabatan dan kuasa
dengan memuja harta kekayaan dan relasi
dengan sombongkan kekuatan senjata dan ilmu teknologi
Bumi tanah memelihara semua anak manusia
menerima segala perilaku termasuk sampah dan kotoran yang dibuang manusia
dan akhirnya menyambut jasad setiap orang tanpa membedakan
Sejarah zaman terus mencatat penjajahan, ketidakadilan dan aneka kejahatan oleh yang kuat kepada yang lemah dan miskin
Padahal mengaku berakal budi, memiliki moral, hukum dan agama
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.