Merajut Tali Silaturahmi

“Pat gulipat, sempat tidak sempat itu harus diwujudkan agar kita tidak kehilangan perseduluran dan ‘trah’ keluarga.” -Mas Redjo

Waktu adalah emas! Kesempatan itu adalah rahmat Tuhan agar tidak disia-siakan, tapi dimanfaatkan dengan baik!

Apakah kita hafal dengan nama anak dari Kakak dan Adik sendiri, apalagi nama cucu-cucu, bahkan termasuk nama anak dari tunggal Eyang? Atau bisa jadi kita ‘kepaten obor’, karena terputusnya hubungan silaturahmi antar keluarga besar.

Lho?! Tidak harus membelalakkan mata atau garuk-garuk kepala yang tidak gatal itu. Karena banyak orang mengalami dan banyak faktor yang jadi penyebabnya. Atau bisa jadi kita pun tidak peduli dengan fakta itu…?!

Alangkah bijak, jika kesempatan untuk merajut perseduluran itu dimanfaatkan dengan baik. Kita tidak menggunakan alasan sibuk dengan keluarga atau bekerja, serta biaya transportasi antar daerah yang mahal, karena ada kerabat dekat kita yang merantau ke kota.

Banyak orang beranggapan, bahwa kemajuan teknologi itu untuk memperpendek jarak, karena melalui telepon atau ‘video call’ itu tali silaturahmi keluarga direnda. Faktanya, hal itu tidak sepenuhnya mampu mengobati dan menuntaskan rasa kangen ini tanpa bertemu secara langsung: ‘face to face’.

Selagi dianugerahi sehat dan kita mempunyai waktu. Alangkah baiknya kesempatkan itu digunakan untuk saling berkunjung, silaturahmi dan kumpul keluarga besar. Sehingga tidak timbul penyesalan, jika ada seorang kerabat yang sakit, apalagi meninggal dunia tanpa diketahui, dan kita berhalangan hadir.

Merajut semangat kepedulian agar tidak ‘kepaten obor’ itu dimulai dari keluarga sendiri. Kita mengenalkan pada anak silsilah, garis keturunan mulai dari Eyang, dari pihak Ibu dan Ayah. Lalu kita membuat agenda temu kangen keluarga besar itu setahun sekali. Tujuan utamanya agar keluarga besar kita semakin kompak, rukun, dan guyup.

Merajut tali silaturahmi itu dari hati, karena kita saling peduli agar tidak ‘kepaten obor’!

Mas Redjo