Esensi Berpuasa

Agustinus adalah seorang Bapak keluarga bagi istri dan ketiga anak yang berusia remaja. Mereka tahu jelas, bahwa Bapak mereka setiap Jumat berpuasa. Ia tidak makan apa pun, kecuali minum air. Urusan-urusan yang terkait rumah dan relasi dengan siapa pun, sedapat mungkin ditangani istri dan anak-anaknya. Bagi Agustinus, puasa Jumat ialah sebuah kehadiran, tapi sebenarnya ketidakhadiran.
Ketika tetangga ingin bertemu, mereka yakin, bahwa Agus di rumah, karena sempat dilihatnya. Tapi saat ditanyakan kepada istri dan anak-anaknya, jawaban yang didapatkan ialah, Agustinus tidak ada. Singkatnya, Agustinus ingin mempraktikkan, bahwa puasa adalah saat seorang membuat suatu ‘ketiadaan’, sehingga orang-orang di sekitarnya jadi tahu, bahwa dirinya memang sedang tidak ada. Dirinya sedang berpuasa.
Pemahaman tentang ketiadaan dengan berpuasa inilah yang hendak diajarkan Yesus kepada orang yang tidak mengerti tentang esensi berpuasa. Yesus berkata, ketika diri-Nya kelihatan dan berada bersama umat dan murid-murid, hendaknya mereka tidak perlu berpuasa. Ketika Ia sudah tidak ada lagi bersama mereka, barulah mereka berpuasa. Sementara sedang ‘ada’ itu sebuah kehadiran di mana orang-orang berinteraksi, bekerja sama, saling melengkapi, dan membangun kebersamaan. Esensinya ialah sebuah pesta kehidupan. Dalam suasana ini, orang-orang tidak dalam posisi mengalami absensi atau ketiadaan.
Pada kenyataannya, setiap kali kita berpuasa memang menciptakan ketidak-adaan dan rela menikmatinya. Misalnya orang tidak makan dan minum, berarti ia tidak mengalami kehadiran makanan dan minuman pada saat berpuasa. Orang yang berpuasa dan berpantang rokok dan minuman beralkohol, berarti ia mengalami ketiadaan uang belanja rokok dan minuman. Orang berpuasa belanja barang-barang kesukaan untuk memanjakan dirinya, berarti ia menciptakan sikap untuk tidak mengalokasikan dana belanja kesukaannya tersebut.
Di dalam praktik hidup rohani, orang yang berpuasa itu diminta untuk meniadakan kebutuhan atau kepentingan duniawi, supaya jiwanya tidak terkontaminasi dengan pengaruhnya, lalu hanya berkonsentrasi pada relasi yang mesra dengan Tuhan. Ini adalah esensi puasa. Dengan demikian, benarlah yang dikatakan Santo Paulus kepada jemaat di Korintus, “Tuhan akan memperlihatkan yang direncanakan di dalam hati.”
“Ya, Allah yang Maha Kasih, pandanglah kami dengan belas kasih-Mu supaya dapat membarui semangat iman dari kepura-puraan atau tidak acuh, menjadi ketulusan. Amin.”
(Verbum Veritatis oleh RP. Komunitas SDB-Salesians of Don Bosco)
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.