Red-Joss.com | Ghea namanya. Dia adalah salah satu mahasiswi yang paling rajin. Dia dan Andre, asal Padang, hampir selalu hadir satu jam sebelum kelas dimulai (08.00).
Siang tadi, usai kelas saya katakan: “Have nice lunch.” Jawabnya: ” Terima kasih, tapi saya puasa, Pak. Kalau bapak enak ya, sudah bebas dari kewajiban berpuasa.”
(Gambaran umum, bahwa puasa itu satu kewajiban untuk ditunaikan).
“Bapak tetap pantang juga?” tanyanya kemudian
“Ya, saya.”
Akhirnya kami terlibat sharing tentang pantang dan dia bercerita bagaimana keluarganya menjalani.
Kami bertiga, Papa, Mama, dan saya, memilih jenis pantang, selain pantang daging, yang lebih sulit itu, karena melibatkan penguasaan diri. Seperti,
(1) Pantang membicarakan kekurangan orang lain,
(2) Pantang membicarakan kelebihan diri sendiri,
(3) Pantang mengeluh,
(4) Pantang berburuk sangka atau marah terhadap orang lain yang mudah emosi. Kami mulai dari rumah.
“Wah, luar biasa sekali. Kalian menemukan pola berpuasa keluarga. Suatu pertumbuhan hidup batin yang mencengangkan,” kataku.
Kalian bertiga sudah punya fondasi yang kuat untuk lebih mengarahkan hati kepada Tuhan dan berusaha menyenangkan hati-Nya dengan cara berpikir dan perbuatan seperti tadi.
Apa yang Anda bertiga lakukan adalah penerapan yang sangat pas dari, “Aku mau mati terhadap diri sendiri dan hidup bagi Tuhan” seperti yang dikatakan di Roma 6:8.
Jadi, pantang dan puasa bukan sekadar tidak makan daging atau tidak jajan, tapi terjadinya perbaikan mutu relasi dengan Tuhan dan sesama.
“Nak, (sebagai peneguhan saya katakan kepadanya) kita diundang untuk melihat ke dalam diri kita, melihat kebiasaan, apakah yang selama ini menghalangi kita untuk lebih dekat dengan Tuhan. Beruntung sekali, Anda memiliki Papa Mama yang menuntunmu mengenal Yesus dengan baik.”
“Terima kasih, Pak. Kita saling mendoakan, ya. Have nice week end,” katanya sambil cium tangan dan pamit.
Terima kasih boleh dengar sharing tentang puasa yang bernilai.
Tetap sehat dan senang berbagi terang.
…
Jlitheng
…
Foto ilustrasi: Istimewa

