Refleksi Filosofis Antropologis:
Mulut Bocor

Oleh: Fr. M. Christoforus, BHK
“Mulutmu adalah harimaumu”
(Peribahasa Bangsa)
Sepintas kilas, esensial dari ungkapan ‘mulut bocor,’ adalah orang yang bercerewet. Jika kita kupas secara mendalam lewat mata pisau ‘filosofis antropologis’, ternyata sungguh sangat luas dan mendalam maknanya.
- Refleksi Antropologis: “Manusia itu Makhluk yang Berbicara (Homo est rationale et loquens)
‘Zoom Logon Echo’, “Manusia adalah makhluk yang berlogos/ berkata-kata,” demikian filsuf Aristoteles.
Jadi, ‘bocor mulut’ itu adalah tanda dari 3 hal kodrat manusia.
- a. Manusia butuh Diekspresikan
Hati manusia itu selalu penuh dengan isi: opini, gosip, kekesalan, rasa bangga, ya, semua isi ini, jika tidak dikeluarkan, tentu akan terasa sumpek atau sesak di dalam dada manusia. Maka, maklumlah jika ia toh dapat ‘bocor.’
- b. Manusia itu Butuh Divalidasi
Ternyata manusia itu sangat ingin untuk didengar. “Aku tahu sesuatu, tolong dengarkan aku, ya!” “Aku ini penting lho buat kamu!” Di saat itu, maka mulutnya itu tak sanggup untuk dibendungnya lagi.
- c. Manusia itu Rapuh
Ternyata, secara antropologis, makhluk manusia itu tidak mampu untuk menahan semuanya seorang diri. Maka, jebollah bendungan batinnya itu (Itulah isyarat kerapuhan manusia). Tapi, perlu diklarifikasi, ‘bocornya’ itu disemprot ke arah mana?
- Refleksi Filosofis: Kata itu Menciptakan Dunia
Camkan!
“Berfirmanlah Allah. . . Dunia pun jadi”
(Kejadian 1: 3).
“Pada mulanya adalah Firman”
(Yohanes 1:1).
Inilah Filosofinya: Bahwa mulut manusia itu adalah miniatur dari si “Pencipta.” Segala sesuatu yang ke luar dari mulut itu yang ‘diciptakan.’
Jadi, permasalahannya bukannya soal ‘bocor’. Tapi, soal isi embernya itu apa?
- 3 Pelajaran Utama dari Si Bocor Mulut
a. Hukum Ember
Bukankah Anda hanya bisa memberi, ketika ada sesuatu yang ada dan tersimpan di dalam? Ya, jika yang tersimpan itu adalah air keruh, berbau, dan kotor, maka yang ke luar pun tentu berupa suatu yang mencemarkan udara, polusi, penyakit, dan bau busuk bukan? “Ya karena yang diuacapkan mulut, justru meluap dari hati” (Mat 12: 34).
b. Filosofi Pintu
Bukankah sang arifin pernah berkata, bahwa “Pikirkan 3 kali sebelum bicara?” Ya, karena mulut ini adalah pintu. Jika pintu itu terkuak alias bocor, maka rumah pun akan kemasukan debu, maling, juga angin dingin.
Maka, jadilah seorang penjaga pintu yang arif bagi rumah sendiri.
- Penutup: Dari ‘Bocor’ jadi ‘Mata Air’
“Dari dalam hatinya akan mengalir aliran-aliran air hidup”
(Yohanes 7: 38).
Kini menjadi nyata, bahwa Yesus tidak pernah berbocor mulut. Dia hanya ‘mengalirkan’.
Maka, ubahlah diri ini yang ‘bocor’ menjadi ‘mata air’ yang menghidupkan!
Kediri, 4 September 2026
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.