Jurus Pamungkas

“Bukan sembarang jurus dan asal digunakan dalam perkelahian atau pertempuran, melainkan untuk pengendalian diri agar kita rendah hati.” -Mas Redjo
Dalam kanuragan, jurus pamungkas itu tidak asal digunakan, tapi di saat kepepet, terpojok, dan bahkan saat genting. Jurus itu digunakan secara terukur dan tidak untuk mencederai, tapi agar lawan itu tidak berdaya dan menyerah.
Guru yang bijaksana juga tidak sembarangan menurunkan jurus pamungkas nan dahsyat itu ke para muridnya. Tapi melalui pengamatan yang ketat agar ilmu itu tidak disalahgunakan, apalagi untuk melakukan tindak kejahatan. Hal itu tidak hanya mempermalukan Guru, tapi juga mencoreng reputasi dan nama baik padepokan.
Jurus pamungkas yang diajarkan di padepokan itu berbeda dengan ajaran kasih yang diwariskan Guru Agung Yesus pada para muridnya. Ajaran kasih-Nya tidak sekadar jadi dasar, landasan, atau fondasi umat beriman. Tapi untuk dihidupi guna menjadi nafas hidup beriman.
Dimulai dari keluarga dan dihidupi dengan cara berpikir dan berkata-kata baik, berperilaku santun, serta murah hati. Karena kasih Tuhan itu tiada batas, tanpa sekat, dan tanpa syarat.
Ajaran kasih Tuhan itu diterapkan sejak kecil agar mengakar kuat di hati dan mendarah daging dalam hidup keseharian kita.
Ajaran kasih itu bersifat universal, tidak membatasi dan memilih-milih murid. Tapi para murid-Nya dituntut untuk: menyangkal diri, memanggul salib, dan mengikuti-Nya (Mat 16: 24).
Jurus pamungkas kasih itu adalah tidak membalas perlakuan buruk dan jahat, tapi untuk mengampuni dan mendoakan mereka yang bersalah dan berdosa. Mengasihi ikhlas hati.
Mas Redjo
Anda harus log masuk untuk menerbitkan komentar.